PSPK – 18 Juni 2026 | Pegawai Kopdes Disuruh Latih Militer Bareng Tentara, Apa Gunanya? menjadi sorotan utama setelah Kementerian Pertahanan (Kemhan) menggelar program pelatihan dasar militer (latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad) bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program ini dirancang untuk menanamkan etos kerja kuat, disiplin, serta nilai-nilai kepemimpinan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
Latar Belakang Program Komcad
Menurut Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, pelatihan latsarmil Komcad merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan 35.476 calon pengelola koperasi dengan standar disiplin militer. “Melalui latsarmil Komcad, peserta dibekali ilmu dan nilai-nilai disiplin, kepemimpinan, kerja sama tim, integritas, semangat pengabdian,” ujarnya pada Kamis (18/6/2026).
Rincian Pelatihan
- Durasi total: 45 hari, tersebar di 67 satuan TNI di seluruh Indonesia.
- 30 hari pertama fokus pada kedisiplinan militer: tata cara berpakaian, kebugaran, etika, dan komando.
- 15 hari berikutnya beralih ke pelatihan manajerial: pengelolaan koperasi, akuntansi dasar, pelayanan publik, dan strategi pemasaran.
Manfaat yang Diharapkan
Pelatihan ini tidak sekadar menambah jam latihan, melainkan diharapkan menghasilkan pengelola yang lebih kompeten. Berikut beberapa manfaat yang diidentifikasi:
- Disiplin Tinggi: Kebiasaan militer menumbuhkan ketepatan waktu, kepatuhan pada prosedur, dan kemampuan mengatasi tekanan.
- Kepemimpinan Efektif: Peserta belajar memimpin tim, membuat keputusan cepat, serta menginspirasi anggota koperasi.
- Kerja Sama Tim: Latihan bareng tentara menumbuhkan rasa kebersamaan yang penting dalam mengelola koperasi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.
- Integritas dan Etika: Nilai-nilai kejujuran serta transparansi yang dijunjung tinggi dalam militer diharapkan terbawa ke dalam pengelolaan keuangan koperasi.
- Semangat Pengabdian: Peserta diharapkan memiliki motivasi tinggi untuk melayani masyarakat, bukan sekadar mengejar profit.
Reaksi Publik dan Analisis Ahli
Publik awalnya terkejut melihat Pegawai Kopdes Disuruh Latih Militer Bareng Tentara, Apa Gunanya? Namun setelah penjelasan resmi, sebagian besar menyambut positif. Ahli manajemen publik, Dr. Siti Anindya, berpendapat bahwa integrasi nilai militer ke dalam pengelolaan koperasi dapat menjadi inovasi dalam meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas layanan publik.
Namun, ada pula yang mengkritisi potensi risiko: apakah pelatihan militer dapat menimbulkan kultur otoriter dalam pengambilan keputusan koperasi? Rico menegaskan bahwa program ini tetap berfokus pada nilai-nilai demokratis dan partisipatif, serta dipantau secara ketat oleh lembaga pengawas internal Kemhan.
Implementasi di Lapangan
Setelah menyelesaikan 45 hari pelatihan, peserta akan ditempatkan di masing-masing koperasi desa atau kampung nelayan. Mereka diwajibkan melaporkan progres tiap bulan melalui sistem monitoring digital yang terintegrasi dengan Biro Informasi Pertahanan. Evaluasi mencakup pencapaian target pelayanan, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur, dan tingkat kepuasan anggota koperasi.
Prospek Kedepan
Jika program ini berhasil, Kemhan berencana memperluas skala ke koperasi lain di seluruh Indonesia, termasuk koperasi perkotaan. Diharapkan, model latih militer ini menjadi contoh bagi lembaga lain dalam menumbuhkan budaya kerja yang disiplin, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan.
Secara keseluruhan, Pegawai Kopdes Disuruh Latih Militer Bareng Tentara, Apa Gunanya? ternyata bukan sekadar gimmick, melainkan upaya strategis untuk menyiapkan generasi pengelola koperasi yang profesional, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.












