Project Seru Penuh Kejutan

Trampoline Park Jadi Tempat Salat Id, Diaspora Indonesia di Newcastle Rayakan Iduladha Penuh Kekhuyukan di Tengah Dingin Inggris

May 29, 2026 • 0 Views

PSPK – 29 Mei 2026 | Jakarta — Udara dingin Newcastle menyelimuti langkah puluhan perantau Indonesia yang berjalan menuju lokasi salat Id pada Kamis pagi, 28 Mei 2026. Mereka datang membawa kerinduan mendalam terhadap suasana lebaran di kampung halaman. Di tengah hari kerja biasa yang tidak mengenal libur nasional, semangat merayakan Hari Raya Kurban justru menyala lebih terang. Hangatnya Iduladha bagi Perantau Indonesia di Newcastle Inggris LPP RRI menjadi cerita yang layak diangkat ke permukaan — sebuah kisah tentang bagaimana jarak dan dingin tak pernah mampu memadamkan ikatan keimanan dan persaudaraan.

Suhu Belasan Derajat, Semangat Membara

Ratusan mahasiswa dan warga Indonesia tetap berkumpul sejak pagi buta dengan penuh antusiasme. Suhu belasan derajat Celsius terasa menusuk tulang di tengah musim panas Inggris yang tahun ini justru cenderung sejuk dan berangin. Namun, gema takbir yang berkumandang dari pengeras suara seolah menjadi selimut hangat yang menembus jaket tebal para jemaah. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru kota — ada yang berjalan kaki dari asrama mahasiswa, ada pula yang menumpang bus kota — demi satu tujuan: merayakan Iduladha bersama sesama Muslim di Newcastle.

Area terbuka di sekitar lokasi salat dipenuhi jemaah dari berbagai negara dan latar belakang budaya. Warga Turki, Pakistan, Bangladesh, hingga komunitas Muslim lokal Inggris saling menyapa hangat sebelum melaksanakan salat Id secara berjemaah. Dalam suasana multikultural tersebut, keberadaan diaspora Indonesia terasa begitu mencolok — bukan karena jumlahnya yang dominan, melainkan karena kekhasan kebersamaan dan keakraban yang mereka bawa dari tanah air.

Trampoline Park yang Berubah Jadi Masjid

Salah satu aspek paling menarik dari perayaan Iduladha kali ini adalah pemilihan lokasi salat. Tahun ini, salat Iduladha digelar di Trampoline Park Newcastle — sebuah tempat bermain trampolin yang biasanya dipenuhi suara tawa anak-anak dan musik latar. Pagi itu, seluruh arena berubah menjadi ruang ibadah penuh kekhusyukan dan kebersamaan. Karpet-karpet salat digelar di atas lantai yang biasa menjadi area lompat, menciptakan kontras yang unik antara dunia hiburan dan spiritualitas.

“Hari ini saya bergabung di Trampoline Park Newcastle bersama teman-teman,” kata Anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Inggris Raya (PPI UK), Adiva Imtias Mulia, saat menjadi narasumber dalam program RRI Pro3 bertajuk Iduladha di Mancanegara. Ia mengaku senang dan terharu melihat antusiasme diaspora Indonesia yang tetap bersemangat merayakan Hari Raya meskipun jauh dari kampung halaman.

Keunikan tempat ibadah yang tak lazim justru menghadirkan pengalaman berbeda bagi seluruh jemaah yang hadir. Tawa kecil anak-anak sesekali terdengar di sela-sela suasana religius pagi itu, mengingatkan semua orang bahwa Iduladha adalah momen kebahagiaan yang universal. Suasana tersebut menjadi bukti bahwa ibadah tidak terbatas pada bangunan megah — di mana pun umat Muslim bersujud dengan khusyuk, di situlah hadir keberkahan. Hangatnya Iduladha bagi Perantau Indonesia di Newcastle Inggris LPP RRI tercermin dari momen-momen sederhana namun penuh makna seperti ini.

Aroma Beryani dan Tawa Persaudaraan

Usai pelaksanaan salat Id, aroma makanan hangat langsung menyeruak dari area bazar sederhana yang didirikan di pinggir lokasi. Para mahasiswa dan warga Indonesia berbondong-bondong mendatangi stan-stan makanan yang menjajakan hidangan lebaran dengan harga sangat terjangkau. Bagi para perantau yang hidup dengan anggaran terbatas, kehadiran bazar ini ibarat oasis di padang pasir.

“Sepulang salat ada nasi beryani murah, hanya dua pound,” kata Adiva seraya tersenyum lebar. Harga yang sangat ramah di kantong mahasiswa itu membuat hidangan sederhana tersebut terasa begitu istimewa. Nasi beryani yang disajikan dalam porsi besar, lengkap dengan lauk dan kuah kari, menjadi santapan lebaran yang mengobati kerinduan akan cita rasa masakan rumahan di Indonesia. Di negeri orang, setiap suapan terasa seperti membawa sepotong kampung halaman ke dalam mulut.

Tidak hanya nasi beryani, bazar tersebut juga menyediakan berbagai kue dan minuman khas yang mengingatkan pada suasana lebaran di tanah air. Percakapan ringan mengalir di antara para jemaah yang duduk berkelompok, berbagi cerita tentang keluarga masing-masing, rencana studi, dan harapan-harapan di masa depan. Tawa dan senyum menjadi bahasa universal yang menyatukan mereka — sebuah bukti bahwa persaudaraan sesama perantau tidak memerlukan formalitas untuk tumbuh subur.

Kreativitas Menjaga Tradisi di Negeri Orang

Tidak adanya hari libur nasional untuk Iduladha di Inggris menjadi tantangan tersendiri bagi diaspora Indonesia. Sementara di Tanah Air seluruh umat Muslim menikmati cuti bersama, para perantau di Newcastle harus membagi waktu antara kewajiban akademis dan kerinduan untuk merayakan hari besar keagamaan. Namun, keterbatasan ini justru melahirkan kreativitas luar biasa dalam menjaga kebersamaan.

Banyak perantau yang memilih berkumpul sepulang kuliah atau bekerja di taman-taman kota untuk melanjutkan perayaan secara informal. Taman-taman hijau Newcastle yang asri menjadi saksi bisu percakapan-percakapan hangat tentang keluarga di kampung halaman, nasihat orang tua yang masih terngiang di telinga, dan doa-doa yang dipanjatkan dari kejauhan. Mereka berbagi cerita sambil menikmati sore dingin khas Newcastle, ditemani secangkir teh hangat dan kue-kue sederhana yang dibawa dari rumah masing-masing.

Bagi sebagian mahasiswa baru yang baru pertama kali merayakan Iduladha jauh dari keluarga, momen ini memiliki makna emosional yang sangat mendalam. Air mata kerinduan bercampur dengan tawa kebersamaan menciptakan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Hangatnya Iduladha bagi Perantau Indonesia di Newcastle Inggris LPP RRI bukan sekadar berita, melainkan representasi nyata dari ketegaran dan kekuatan spiritual komunitas diaspora Indonesia di luar negeri.

Kekuatan Komunitas di Tantang Jarak

Perayaan Iduladha di Newcastle juga menjadi momentum penting untuk memperkuat jaringan komunitas diaspora Indonesia. PPI UK beserta organisasi kemahasiswaan lainnya berperan aktif dalam mengkoordinasi kegiatan, mulai dari penyediaan lokasi salat hingga pengaturan bazar makanan. Kerja sama antarlembaga ini mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Tidak hanya sesama warga Indonesia, interaksi hangat juga terjalin dengan komunitas Muslim dari negara-negara lain. Pertukaran budaya dan pengalaman hidup di perantauan menjadi bonus berharga dari perayaan bersama ini. Seorang mahasiswa asal Turki yang hadir di lokasi salat bahkan mengundang beberapa teman Indonesia untuk makan malam bersama keluarganya di hari Iduladha, sebuah gestur persaudaraan lintas bangsa yang menyentuh hati.

Ketika Dingin Newcastle Tak Mampu Membekukan Hati

Kisah Hangatnya Iduladha bagi Perantau Indonesia di Newcastle Inggris LPP RRI mengajarkan satu pelajaran penting: kehangatan sesungguhnya tidak datang dari suhu udara, melainkan dari ikatan hati antar sesama manusia. Di tengah dingin yang menggigit dan jarak ribuan kilometer dari kampung halaman, para diaspora Indonesia membuktikan bahwa tradisi dan nilai-nilai keagamaan dapat tetap hidup dan bersemi di mana pun mereka berada.

Perayaan yang digelar di Trampoline Park Newcastle itu mungkin terdengar sederhana — tanpa panggung megah, tanpa khotib nasional, tanpa hidangan melimpah. Namun, bagi ratusan perantau yang hadir, momen itu menyimpan kekayaan spiritual yang jauh melampaui kemewahan materi. Ketika takbir berkumandang di antara dinding-dinding arena bermain, ketika sujud dilakukan di atas karpet yang digelar di lantai trampolin, dan ketika nasi beryani dua pound menjadi hidangan lebaran paling nikmat yang pernah mereka cicipi — saat itulah makna Iduladha yang sesungguhnya terwujud: pengorbanan, keikhlasan, dan persaudaraan tanpa batas.

Semoga kisah inspiratif ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di mana pun kita berada, semangat Hari Raya selalu bisa dirasakan asalkan hati tetap terhubung dengan sesama. Selamat Iduladha untuk seluruh diaspora Indonesia di penjuru dunia — jarak memisahkan tubuh, tapi tidak pernah mampu memisahkan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *