PSPK – 17 April 2026 | Jakarta – Banyak orang menerima panggilan yang tiba‑tiba terputus tanpa suara. Fenomena ini dikenal sebagai “silent call” dan kini menjadi taktik awal dalam serangkaian penipuan siber.
Dosen Ilmu Komputer IPB, Heru Sukoco, menjelaskan bahwa panggilan hening tersebut biasanya digunakan untuk menguji apakah nomor telepon aktif, memancing korban melakukan panggilan balik, atau mengumpulkan data untuk serangan selanjutnya.
Risiko yang mengintai meliputi masuknya nomor ke dalam daftar target penipuan, pemanfaatan panggilan kembali untuk mengirim OTP palsu, atau menjerumuskan korban ke nomor premium berbiaya tinggi.
Heru menekankan tiga prinsip utama untuk melindungi diri:
- Jangan mengangkat panggilan yang tidak dikenal, terutama dari nomor asing.
- Jangan melakukan panggilan balik (call back) pada panggilan yang tidak berbicara.
- Blokir dan abaikan panggilan tersebut.
Jika panggilan terlanjur terangkat, hindari menjawab “ya” karena suara dapat direkam dan disalahgunakan untuk memanipulasi data pribadi seperti OTP, NIK, atau informasi perbankan.
Beberapa langkah tambahan yang dapat diterapkan:
- Aktifkan fitur bawaan ponsel untuk menolak panggilan tidak dikenal atau memfilter nomor asing.
- Gunakan aplikasi pihak ketiga yang dapat menandai dan memblokir nomor spam secara otomatis.
- Lakukan edukasi keluarga, khususnya orang tua dan anak, agar tidak mudah percaya pada panggilan misterius.
Heru juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat, peran operator telekomunikasi dalam menyaring pola panggilan mencurigakan, serta kolaborasi lintas sektor untuk membangun basis data spam nasional.
Dengan kewaspadaan sederhana, masyarakat dapat memperkuat pertahanan terhadap modus penipuan berbasis telepon yang terus berkembang.












