PSPK – 04 April 2026 | Medan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pelatihan pemanfaatan limbah popok sekali pakai sebagai upaya menekan pencemaran dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, menekankan bahwa penggunaan popok sekali pakai terus meningkat seiring gaya hidup praktis, tidak hanya untuk bayi tetapi juga untuk lansia.
Sofyan Tan mengingatkan bahwa kebiasaan membuang popok sembarangan, termasuk ke sungai dan saluran air, menimbulkan masalah serius: pencemaran visual, penyumbatan drainase, banjir, serta potensi penyebaran penyakit karena kotoran dan bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya.
Ia membandingkan situasi Indonesia dengan negara‑negara maju, di mana tepi sungai biasanya ditata menjadi ruang publik yang bersih, bukan menjadi tempat pemukiman padat dengan sampah.
Pada pelatihan, peserta diperkenalkan pada beberapa cara mengolah limbah popok menjadi produk bernilai. Popok bekas mengandung serat dan bahan penyerap super absorber yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam, substrate budidaya jamur, atau bahan kompos bila diproses dengan benar.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Sri Wahyono, menjelaskan tiga tahapan penting dalam pengolahan limbah popok:
- Pembersihan: popok dibilas untuk menghilangkan kotoran padat dan cair yang mengandung patogen.
- Pengeringan: popok dijemur di bawah sinar matahari untuk mengurangi kelembaban dan meningkatkan kebersihan.
- Pemilahan dan Penyimpanan: popok dipisahkan dari sampah lain dan disimpan terpisah karena termasuk limbah residu yang mengandung lapisan plastik serta kontaminasi biologis.
Setelah melalui tiga tahap tersebut, bahan penyerap dapat diproses lebih lanjut menjadi media tanam yang mampu menahan kelembapan, sehingga cocok untuk budidaya jamur atau tanaman hortikultura. Pengolahan yang tepat juga membuka peluang bagi usaha kecil menengah yang berbasis ekonomi sirkular.
Sofyan Tan menegaskan bahwa pengelolaan limbah bukan sekadar upaya menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga membuka potensi ekonomi baru jika dikelola secara sistematis. Ia berharap masyarakat tidak lagi membuang popok secara acak, melainkan mulai memilah dan mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat.












