PSPK – 17 April 2026 | Pasar saham di kawasan Asia mengalami penurunan pada Jumat 17 April setelah seminggu sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi. Penurunan ini dipicu oleh penantian investor atas perkembangan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta perlambatan harga minyak mentah yang sempat naik tajam sehari sebelumnya.
Setelah dua minggu konflik di Timur Tengah, harapan muncul ketika Presiden Amerika Serikat menyatakan bahwa negosiasi dengan Tehran sudah mendekati kesepakatan. Ia menegaskan bahwa Iran telah setuju mengembalikan ‘debu nuklir’ dan menambahkan kemungkinan ‘minyak gratis’ serta pembukaan Selat Hormuz. Namun, pernyataan tersebut belum diikuti oleh konfirmasi publik dari pihak Iran.
Pegawai senior Pentagon, Pete Hegseth, memberi peringatan keras bahwa jika Iran memilih jalur yang salah, akan ada tindakan blokade dan serangan terhadap infrastruktur energi. Di sisi lain, pemimpin negara‑negara Teluk dan Eropa mengkhawatirkan bahwa kesepakatan jangka panjang mungkin memerlukan waktu hingga enam bulan, dan menekankan pentingnya membuka Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar satu per lima pasokan minyak dan LNG dunia.
Saham‑saham utama di kawasan mengalami tekanan. Indeks Nikkei Tokyo, yang sempat mencapai level tertinggi pada Kamis, turun bersama dengan indeks KOSPI Korea Selatan, Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, serta pasar di Sydney, Wellington, Manila, dan Singapura. Indeks TAIEX Taiwan, yang kapitalisasi pasarannya kini menyaingi Inggris, juga mengalami penurunan.
Meski indeks S&P 500 dan Nasdaq di Amerika mencatat rekor penutupan, para pedagang di Asia tetap waspada menjelang akhir pekan, mengantisipasi kemungkinan perubahan tak terduga dalam proses diplomatik.
Harga minyak mentah berfluktuasi di bawah US$100 per barel, setelah sebelumnya melonjak. Beberapa analis menilai bahwa pasar sudah memperhitungkan skenario di mana harga minyak berada di puncaknya, kecuali terjadi eskalasi baru di wilayah perairan strategis.
- Skye Masters (National Australia Bank) mencatat bahwa risiko tetap tinggi karena perbedaan pandangan antara pihak‑pihak yang terlibat dalam gencatan senjata.
- Fiona Cincotta (City Index) mengingatkan bahwa gangguan pada jalur pelayaran utama, terutama Selat Hormuz, dapat memicu volatilitas kembali.
Secara keseluruhan, meskipun ada optimisme sementara terkait prospek damai, sentimen pasar tetap rapuh dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah.












