PSPK – 08 April 2026 | Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa ekonomi dunia kini berada di ambang tantangan berat yang dipicu oleh konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurutnya, perang yang meluas ini tidak hanya mengganggu stabilitas geopolitik, melainkan juga menimbulkan tekanan signifikan pada pasokan energi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi global.
Dampak Harga Minyak yang Melonjak
Perang yang telah berlangsung lebih dari satu bulan menimbulkan lonjakan tajam pada harga minyak mentah. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Faris Al‑Fadhat, mengungkapkan bahwa gangguan pada jalur distribusi utama, khususnya Selat Hormuz, mengakibatkan penurunan pasokan yang cepat. Sekitar 40% produksi minyak dunia melintasi selat tersebut, dan setiap gangguan menggerakkan harga ke level ekstrem. Harga yang semula berkisar US$62‑70 per barel sempat menembus US$100, dan kini stabil di sekitar US$90 per barel.
Implikasi bagi Pertumbuhan Ekonomi Global
Konsekuensi dari peningkatan biaya energi langsung tercermin pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Sebelum konflik, perkiraan pertumbuhan tahun 2026 berada di kisaran 2,7‑3,3 persen. Namun, menurut pernyataan Prof. Faris, potensi resesi kini menjadi nyata jika perang berlanjut tanpa solusi diplomatik. Inflasi diprediksi akan melambung, menekan daya beli konsumen dan memperburuk ketidakstabilan pasar.
International Monetary Fund (IMF) juga mengeluarkan peringatan serupa. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan bahwa “semua jalan kini mengarah pada harga lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.” Ia menambahkan bahwa perkiraan pertumbuhan global yang sebelumnya diproyeksikan 3,3% pada 2026 telah turun tajam akibat guncangan energi yang dipicu oleh penutupan sementara Selat Hormuz.
Pengaruh terhadap Indonesia
Sebagai negara semi‑produsen minyak, Indonesia merasakan dampak langsung dari kenaikan harga energi. Produksi domestik hanya mencapai 600‑700 ribu barel per hari, jauh di bawah kebutuhan nasional yang mendekati satu juta barel. Defisit impor yang meluas berarti beban anggaran negara meningkat ketika harga minyak dunia naik. Pemerintah menghadapi dilema antara mempertahankan subsidi energi—yang dapat menggerogoti APBN—atau membiarkan kenaikan harga memicu inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat.
Prof. Faris menekankan bahwa efek meluas tidak terbatas pada sektor energi. Rantai pasok pangan, manufaktur, hingga teknologi dapat terganggu, memperlambat pertumbuhan sektor‑sektor penting dalam perekonomian Indonesia. Kebijakan fiskal yang harus menyeimbangkan antara subsidi dan stabilitas harga menjadi tantangan kebijakan yang kompleks.
Solusi Diplomatik dan Peran ASEAN
Baik Putin maupun para pakar menyoroti pentingnya penyelesaian melalui jalur diplomasi multilateral. Putin mengajak negara‑negara besar untuk menurunkan ketegangan dan membuka dialog yang konstruktif, sementara Prof. Faris mengajak Indonesia dan ASEAN untuk berperan aktif sebagai mediator. “Tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan dari perang ini,” ujarnya, menekankan perlunya mediasi internasional untuk memulihkan stabilitas ekonomi.
Langkah diplomatik yang diusulkan meliputi penarikan pasukan, pembukaan kembali jalur laut kritis, serta negosiasi energi bersama yang dapat menurunkan ketergantungan pada satu wilayah produksi. Upaya bersama ini diharapkan dapat menurunkan tekanan pada harga minyak, menstabilkan inflasi, dan memulihkan kepercayaan investor global.
Dengan tekanan yang terus meningkat, ekonomi global berada pada persimpangan kritis. Jika konflik tidak segera diredam, konsekuensi yang lebih luas—termasuk potensi resesi global, peningkatan kemiskinan, dan ketidakstabilan politik—bisa mengancam kesejahteraan jutaan orang di seluruh dunia.












