Project Seru Penuh Kejutan
Berita  

Pramono Terjun ke Kali, Anggukan Ikan Sapu-sapu ‘Cute’ tapi Berbahaya: Operasi Besar Basmi Invasi dan Kontroversi MUI

April 20, 2026 • 0 Views
Pramono Terjun ke Kali, Anggukan Ikan Sapu-sapu 'Cute' tapi Berbahaya: Operasi Besar Basmi Invasi dan Kontroversi MUI
Pramono Terjun ke Kali, Anggukan Ikan Sapu-sapu 'Cute' tapi Berbahaya: Operasi Besar Basmi Invasi dan Kontroversi MUI

PSPK – 20 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menuruni tepian kali pada Minggu (19/4/2026) sambil menyebut ikan sapu-sapu “cute” namun berbahaya. Aksi simbolis itu menjadi sorotan utama setelah pemerintah provinsi menggelar operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu yang kini mendominasi lebih dari 60‑70 persen populasi perairan ibu kota.

Operasi Penangkapan Besar-besaran

Dalam satu kali operasi simultan di lima wilayah, tim penangkap berhasil mengangkat puluhan ribu ekor ikan sapu-sapu dengan total berat hampir 7 ton. Di wilayah Jakarta Selatan saja, berat ikan yang diangkat menembus 5 ton, menunjukkan pertumbuhan populasi yang melampaui batas wajar. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mengonfirmasi bahwa dominasi spesies invasif ini telah mengancam keseimbangan ekosistem sungai‑sungai kota.

Kontroversi Metode Pemusnahan

Metode yang dipilih pemerintah, yaitu mengubur ikan hidup‑hidup di tanah, menuai kritik tajam dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menegaskan bahwa tindakan tersebut berpotensi menimbulkan penderitaan pada hewan dan bertentangan dengan prinsip rahmatan lil 'alamin. MUI mengingatkan bahwa pembunuhan hewan dapat dibenarkan bila ada kemaslahatan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang manusiawi.

Pramono menanggapi kritik tersebut dengan membuka ruang evaluasi. “Mengenai saran dan kritik dari MUI, nanti saya minta untuk yang ahli untuk menyesuaikan tata caranya,” ujarnya. Pemerintah berjanji akan meninjau prosedur pemusnahan agar lebih sesuai dengan standar kesejahteraan hewan.

Ikan Sapu-sapu di Meja Makan

Sementara upaya penangkapan berlangsung, rumor penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay mulai beredar. Pedagang siomay di Cengkareng dan Palmerah mengaku pernah mendengar praktik tersebut, terutama karena harga ikan sapu-sapu yang jauh lebih murah (sekitar Rp 25.000‑35.000/kg) dibandingkan ikan tenggiri atau tuna yang dapat mencapai hampir Rp 100.000/kg. Namun, kedua pedagang menegaskan bahwa mereka tetap menggunakan ikan tenggiri atau tuna dan tidak pernah memanfaatkan ikan sapu-sapu.

Para ahli kesehatan memperingatkan risiko konsumsi ikan sapu-sapu. Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam dari UI menekankan bahwa ikan yang berasal dari perairan tercemar dapat mengandung bakteri, kuman, serta logam berat yang berbahaya bagi konsumen.

Reaksi Publik dan Dampak Lingkungan

Warga Jakarta menyambut operasi penangkapan dengan harapan pemulihan kualitas air, namun sebagian menilai metode pemusnahan perlu dipertimbangkan kembali. Aktivis lingkungan menyoroti pentingnya pencegahan penyebaran spesies invasif melalui pengelolaan sampah dan pengendalian limbah industri, yang menjadi salah satu faktor utama proliferasi ikan sapu-sapu.

Selain itu, DPRD DKI Jakarta menyoroti perlunya kebijakan komprehensif yang tidak hanya fokus pada pemusnahan, tetapi juga pada upaya restorasi habitat alami bagi spesies asli. Mereka menuntut transparansi dalam proses pemusnahan serta pelaporan yang dapat diakses publik.

Secara keseluruhan, aksi Pramono terjun ke kali mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi krisis ekologi, namun menimbulkan pertanyaan etis tentang cara terbaik mengendalikan spesies invasif tanpa melanggar nilai kemanusiaan.

Upaya bersama antara pemerintah, lembaga keagamaan, ilmuwan, dan masyarakat luas menjadi kunci untuk menyeimbangkan kebutuhan lingkungan dengan prinsip kesejahteraan hewan serta keamanan pangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *