PSPK – 13 April 2026 | Pada Senin pagi, pasar energi global mengalami lonjakan tajam setelah Angkatan Laut Amerika Serikat mengumumkan rencana pemblokade Selat Hormuz. Keputusan tersebut diambil menyusul kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri ketegangan militer di kawasan Teluk Persia.
Harga minyak mentah Brent berjangka naik $7,60 atau hampir 8 persen, mencapai $102,80 per barel pada pukul 23.10 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di $104,88 per barel, naik $8,31 atau 8,61 persen. Kedua indeks tersebut sebelumnya sempat menurun pada sesi Jumat.
Saul Kavonic, kepala penelitian energi di MST Marquee, menjelaskan bahwa pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, namun dengan tambahan ancaman pemblokade aliran minyak hingga dua juta barel per hari melalui Selat Hormuz. Ia menilai bahwa langkah tersebut dapat memperburuk gangguan pasokan minyak global.
- Presiden Amerika Serikat menyatakan akan memulai blokade Selat Hormuz pada pukul 10.00 waktu setempat (14.00 GMT).
- Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati selat akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
- Analisis dari ANZ menilai bahwa blokade ini tidak hanya menekan ekspor minyak negara-negara Teluk, tetapi juga mengurangi kemampuan Iran dalam mengekspor minyak.
Para analis pasar, termasuk Tony Sycamore, berpendapat bahwa blokade tersebut dapat memaksa sekutu Iran untuk menekan Tehran agar membuka kembali jalur laut. Namun, data pelayaran menunjukkan bahwa tiga kapal tanker super yang penuh minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menandakan masih adanya aliran minyak meski terbatas.
Arab Saudi melaporkan bahwa kapasitas pompa minyak melalui pipa Timur-Barat telah pulih hingga sekitar 7 juta barel per hari, beberapa hari setelah menilai kerusakan pada infrastruktur energi akibat serangan sebelumnya.
Para pengamat memperkirakan bahwa harga minyak dan bensin dapat tetap tinggi hingga pemilihan paruh waktu pada bulan November, mengingat ketidakpastian geopolitik yang masih melingkupi kawasan Teluk Persia.












