PSPK – 22 April 2026 | Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Toyota Group menandatangani kesepakatan strategis untuk mendirikan pabrik bioetanol pertama di Indonesia. Proyek berskala triliun rupiah ini akan dibangun di Provinsi Lampung, dengan target penyelesaian konstruksi pada kuartal IV 2026 dan mulai beroperasi penuh pada tahun 2028.
Ruang Lingkup Proyek
Pembangunan pabrik bioetanol direncanakan memiliki kapasitas produksi sebesar 60.000 kiloliter per tahun. Pada fase awal, kapasitas pilot sebesar 60 kiloliter per tahun akan diuji pada kuartal III 2027 sebelum skala komersial diaktifkan. Investasi diperkirakan mencapai sekitar Rp2,5 triliun, melibatkan bukan hanya PNRE dan Toyota Tsusho (Toyota Susho), tetapi juga Danantara Investment Management serta konsorsium riset Jepang bernama Rabbit.
Lokasi dan Ketersediaan Bahan Baku
Lampung dipilih karena keunggulannya sebagai daerah dengan suplai feedstock melimpah. Pemerintah bersama mitra industri menyiapkan lahan seluas 6.000 hektar untuk penanaman sorgum, serta mengoptimalkan lahan tebu, ubi, singkong, dan kelapa sawit yang sudah ada. Pendekatan multi‑feedstock ini memungkinkan diversifikasi bahan baku dan mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.
- Tebu – sumber utama karbohidrat untuk fermentasi.
- Ubi – alternatif lokal yang mudah ditanam.
- Sorgum – ditanam khusus di lahan 6.000 hektar untuk memastikan pasokan jangka panjang.
- Kelapa sawit, jagung, limbah biomassa – dimanfaatkan dalam teknologi generasi kedua (2G) untuk meningkatkan efisiensi.
Jadwal dan Tahapan Konstruksi
Menurut Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, proses persiapan lahan dan penanaman sorgum akan dimulai bersamaan dengan konstruksi pabrik pada kuartal III 2026. Tahap pilot diperkirakan selesai pada kuartal III 2027, sementara fase komersial akan ramp up pada akhir 2028. Seluruh proses diawasi oleh BKPM untuk memastikan kepatuhan regulasi dan kelancaran investasi.
Dukungan Kebijakan Pemerintah
Proyek ini sejalan dengan roadmap energi nasional yang menargetkan pencampuran bioetanol E5 pada 2026‑2027, meningkat menjadi E10 pada 2028‑2030, dan berlanjut ke E20 dalam jangka panjang. Pemerintah menekankan pentingnya kemandirian energi, mengurangi impor BBM yang masih mencapai 61% dari total konsumsi, serta menurunkan volatilitas harga minyak global.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Selain menciptakan lapangan kerja di sektor agribisnis dan manufaktur, pabrik bioetanol diproyeksikan dapat menambah nilai ekspor produk biofuel dan meningkatkan pendapatan petani lokal. Dari sisi lingkungan, penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif dapat menurunkan emisi CO₂, mendukung target netralitas karbon Indonesia, serta mengurangi tekanan pada cadangan minyak fosil.
Kerjasama ini juga membuka peluang bagi transfer teknologi Jepang ke Indonesia, khususnya dalam proses fermentasi dan pemrosesan 2G yang lebih ramah lingkungan. Toyota, melalui jaringan globalnya, berencana memperluas rantai pasok bahan bakar nabati yang terintegrasi dengan kendaraan berbahan bakar fleksibel (flex‑fuel).
Dengan dukungan kuat dari pemerintah, sektor swasta, dan komunitas riset, pabrik bioetanol pertama di Indonesia diharapkan menjadi contoh sukses bagi proyek energi terbarukan lainnya di masa depan.
Keberhasilan proyek ini akan menegaskan komitmen Indonesia dalam mempercepat transisi energi, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan kedaulatan pangan dan energi secara simultan.












