PSPK – 13 April 2026 | Manila – Kenaikan harga gas minyak cair (LPG) yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah menambah beban para pedagang kaki lima di Filipina. Harga LPG hampir dua kali lipat, memaksa penjual makanan tradisional seperti “pares” mengurangi margin keuntungan dan menaikkan harga jual.
Eric Garcia, 20 tahun, harus memutar kenop kompor ke posisi terendah demi menghemat bahan bakar. Ia melaporkan bahwa satu tabung LPG 11 kg yang biasanya cukup untuk empat hari, dari harga Rp 870.000 kini melambung menjadi Rp 1.600.000. Akibatnya, ia terpaksa menambah harga semangkuk pares menjadi Rp 65 (sekitar US$1,08) setelah pendapatan hariannya turun sekitar 25 persen.
Karena 90 % LPG di negara kepulauan tersebut diimpor, kenaikan harga di tingkat distributor langsung berimbas pada penjual. Carlo Manalad, 64 tahun, pengawas toko LPG menjelaskan bahwa mereka tidak dapat menurunkan harga jual karena margin tetap harus dipertahankan.
- Harga LPG tertinggi sejak penjualannya dimulai.
- Penjual menambah harga makanan rata‑rata 5‑10 peso.
- Pengeluaran harian pedagang turun sekitar satu perempat.
Pedagang lain seperti Ronilo Titom, yang melayani pekerja call center dan pengemudi jeepney, menahan harga demi tidak kehilangan pelanggan. Namun, ia mengakui bahwa jumlah pembeli perlahan berkurang karena banyak yang membawa bekal dari rumah. Biaya bahan baku juga naik, memaksa beberapa penjual membiarkan sup menjadi dingin sebelum disajikan.
Inflasi pada bulan Maret tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya, dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar dan makanan. John Mark Abella, penjual kentang goreng, menambah harga 5 peso dan melihat penurunan pelanggan, terutama mahasiswa yang mengurangi pengeluaran.
Sam Natividad, pekerja call center berusia 25 tahun, mengaku harus menekan pengeluaran karena tagihan rumah yang meningkat, sehingga makan di warung kaki lima menjadi beban tambahan.
Pengguna layanan ojek online, Allan Palong, memahami kenaikan harga 5 peso pada semangkuk sup, namun menilai kebijakan pemerintah tentang pajak bahan bakar impor masih kurang memadai.
Kondisi ini mencerminkan dampak langsung konflik geopolitik pada ekonomi mikro masyarakat berpendapatan rendah, menambah tekanan pada daya beli konsumen serta kelangsungan usaha kecil di sektor makanan jalanan.












