Project Seru Penuh Kejutan

Orang Pertama Naik Haji dari Indonesia Bukan Ulama, Melainkan Bratalegawa (Haji Purwa)

April 12, 2026 • 0 Views
Orang Pertama Naik Haji dari Indonesia Bukan Ulama, Melainkan Bratalegawa (Haji Purwa)
Orang Pertama Naik Haji dari Indonesia Bukan Ulama, Melainkan Bratalegawa (Haji Purwa)

PSPK – 12 April 2026 | Sejarah mencatat bahwa orang pertama dari wilayah Nusantara yang menunaikan ibadah haji bukanlah seorang ulama, melainkan seorang bangsawan sekaligus saudagar dari Tanah Sunda.

Tokoh tersebut dikenal dengan nama Haji Purwa atau Bratalegawa. Ia adalah putra Prabu Bunisora dari Kerajaan Galuh (sekarang wilayah Ciamis, Jawa Barat) dan lahir pada tahun 1272 Saka (sekitar 1350 M). Hubungan keluarganya juga bersinggungan dengan Prabu Niskala Wastu Kancana, kakek dari Prabu Siliwangi.

Bratalegawa tidak melanjutkan jalur pemerintahan kerajaan; ia lebih dikenal sebagai pedagang kaya yang mengarungi lautan ke Sumatera, Malaka, China, India, Persia, hingga Semenanjung Arab. Aktivitas perdagangan inilah yang membuka jaringan luas lintas budaya.

Pertemuan dengan Farhana, seorang perempuan beragama Islam asal Gujarat, India, mengubah arah hidupnya. Setelah menikah, pasangan ini berlayar menuju Arab dan singgah di Tanah Suci. Menurut catatan sejarah, Bratalegawa berhasil menunaikan haji di Mekkah dan selama berada di sana mempelajari berbagai ilmu, sehingga kemudian dikenal dengan nama Haji Baharuddin al‑Jawi.

Setelah kembali ke tanah kelahirannya, ia mendapat gelar Haji Purwa Galuh dan dianggap sebagai pelopor haji bagi masyarakat Indonesia.

Kisah Bratalegawa tercatat dalam naskah kuno Sunda seperti Carita Parahiyangan dan Naskah Pangeran Wangsakerta, menegaskan posisinya sebagai figur awal dalam sejarah haji Nusantara.

Namun, sejumlah sumber lain menyebutkan tokoh berbeda yang juga berpotensi menjadi orang pertama Indonesia yang berhaji:

  • Laksamana Malaka, yang konon menunaikan haji sekitar tahun 1482.
  • Pangeran Abdul Dohhar, putra Sultan Tirtayasa, yang diperkirakan berangkat haji pada tahun 1630 M bersama rombongan pedagang dan ulama.
  • Beberapa catatan mengaitkan Raja Sriwijaya, Sri Indravarman, dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada abad ke‑8, menimbulkan dugaan bahwa hubungan haji sudah ada jauh lebih awal.

Pada masa itu, perjalanan haji merupakan tantangan besar. Jemaah harus menempuh perjalanan laut yang dapat memakan waktu hingga dua tahun, penuh risiko dan kesulitan. Meski demikian, upaya para pelaku awal membuka pintu bagi generasi selanjutnya untuk menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *