PSPK – 14 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Setelah lima tahun beroperasi, brand minuman teh kekinian Menantea resmi menutup seluruh gerainya pada 25 April 2026. Keputusan ini diungkap melalui unggahan bersama di Instagram resmi @menantea.toko serta akun pribadi pendiri Jerome Polin dan kakaknya Jehian Panangian Sijabat. Penutupan permanen menandai akhir dari sebuah usaha yang sempat menjadi sorotan generasi milenial berkat promosi kreatif dan dukungan influencer.
Latar Belakang Pendiri dan Peluncuran Menantea
Menantea didirikan pada 10 April 2021 oleh duo kakak‑adik, Jerome Polin, seorang kreator konten YouTube, dan Jehian Panangian Sijabat. Usaha ini menjadi perusahaan pertama mereka di bidang food & beverage, mengusung konsep teh kekinian dengan varian rasa yang beragam. Dalam beberapa tahun pertama, Menantea berhasil membuka jaringan toko di sejumlah kota besar, menarik perhatian konsumen muda melalui strategi pemasaran digital yang intens.
Penyebab Penutupan: Rangkaian Masalah Operasional dan Keuangan
Dalam pengumuman penutupan, kedua pendiri mengakui adanya serangkaian kesalahan yang mengakibatkan kerugian signifikan. Beberapa poin utama yang disebutkan antara lain:
- Kegagalan melakukan background research terhadap calon mitra bisnis, sehingga terjalin kerjasama dengan pihak yang tidak dapat dipercaya.
- Kurangnya audit internal keuangan secara rutin, membuat laporan keuangan tidak akurat dan menutupi penyalahgunaan dana.
- Penumpukan tagihan supplier yang tidak terbayar, menimbulkan ketegangan hubungan dengan pemasok bahan baku.
- Kesalahan pelaporan pajak pada masa awal berdiri, yang kemudian memicu investigasi pajak.
- Indikasi adanya praktik fraud internal, termasuk penyalahgunaan dana franchise senilai sekitar Rp38 miliar untuk kepentingan pribadi.
Masalah‑masalah tersebut pertama kali terungkap melalui keluhan mitra lapangan dan laporan dari supplier yang menuntut pembayaran. Selanjutnya, tim internal Menantea menemukan ketidaksesuaian antara laporan keuangan yang disajikan dalam format spreadsheet dan realitas mutasi rekening perusahaan.
Langkah-Langkah Perbaikan dan Audit Investigasi
Menanggapi temuan tersebut, Jerome dan Jehian menggelar audit investigasi dengan bantuan kantor akuntan publik independen. Audit tersebut mencakup pemeriksaan dokumen keuangan, verifikasi pembayaran kepada supplier, serta penelusuran aliran dana yang dicurigai sebagai fraud. Selama proses tersebut, mereka menutup sebagian operasi, melunasi tagihan yang tertunda, dan menyelesaikan tunggakan pajak.
Semua biaya perbaikan dibiayai secara pribadi oleh kedua pendiri, tanpa mengandalkan dana eksternal. Meskipun upaya perbaikan berhasil menurunkan beban utang, para pendiri menilai risiko berulangnya kesalahan serupa tetap tinggi.
Strategi Penutupan dan Clearance Sale
Untuk meminimalkan dampak pada mitra franchise dan pelanggan, Menantea meluncurkan program clearance sale yang berlangsung hingga 24 April 2026. Promo utama berupa penjualan minuman seharga Rp10.000 per cup, dengan variasi harga khusus Rp15.000 per cup untuk cabang di Papua. Program ini ditujukan sebagai bentuk subsidi bagi mitra yang masih menjalankan toko hingga hari penutupan resmi pada 25 April.
Selain itu, pihak manajemen menyampaikan komitmen untuk menyelesaikan hak‑hak karyawan yang belum terpenuhi, termasuk pembayaran gaji dan tunjangan yang tertunda.
Reaksi Publik dan Pelajaran Bisnis
Pengumuman penutupan Menantea menuai beragam respons di media sosial. Banyak penggemar menyampaikan rasa kecewa, sementara komunitas startup menyoroti pentingnya due diligence, transparansi keuangan, dan kontrak yang jelas dalam setiap kolaborasi bisnis. Jerome Polin menekankan, “Lesson terbesar: jangan mudah percaya pada orang, meski tampak berpengalaman. Pastikan semua pihak memahami bisnis secara mendalam dan kontrak disusun dengan tegas sejak awal.”
Jehian menambahkan, “Kami menutup Menantea untuk menghindari kerugian lebih lanjut bagi mitra, supplier, dan konsumen. Keputusan ini diambil demi integritas industri dan sebagai pelajaran bagi pendiri muda lainnya.”
Secara keseluruhan, kasus Menantea menjadi contoh nyata bagaimana kegagalan dalam manajemen risiko dan pengawasan internal dapat berujung pada kerugian miliaran rupiah serta reputasi yang ternoda. Diharapkan, kisah ini akan menjadi bahan refleksi bagi para entrepreneur di Indonesia, khususnya yang bergerak di sektor kuliner dan F&B.
Penutupan Menantea pada 25 April 2026 menandai berakhirnya satu babak penting dalam dunia startup makanan dan minuman, sekaligus membuka ruang diskusi lebih luas tentang praktik tata kelola perusahaan yang baik.












