PSPK – 21 April 2026 | Group Sinarmas, milik keluarga Widjaja, mengelola bisnis di berbagai sektor mulai dari energi, pulp‑kertas, keuangan hingga properti. Pada tahun 2025, kinerja keuangan tiap emiten menunjukkan pola yang beragam, menandakan tantangan dan peluang yang berbeda‑beda di masing‑masing pasar.
Pulp & Kertas
Di sektor ini terdapat dua emiten utama, yaitu PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP). TKIM mencatat laba bersih sebesar US$275,8 juta (sekitar Rp4,61 triliun) pada 2025, turun 7,17% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan neto hampir stagnan, yakni US$984,72 juta, sedangkan beban pokok penjualan (COGS) sedikit menurun menjadi US$833,77 juta. Produk utama meliputi kertas budaya (US$714,52 juta) dan kertas industri (US$270,19 juta) yang dipasarkan ke Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.
INKP justru mencatat peningkatan laba bersih sebesar 6,84% menjadi US$453,34 juta (Rp7,57 triliun). Penjualan neto sedikit menurun menjadi US$3,17 miliar, sementara COGS turun menjadi US$2,14 miliar. Kinerja positif INKP mencerminkan efisiensi operasional yang lebih baik meski volume penjualan sedikit melambat.
Energi & Infrastruktur (DSSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalami penurunan laba bersih yang signifikan, sebesar 25,41% menjadi US$230,53 juta (Rp3,85 triliun). Pendapatan total menurun dari US$3,01 miliar menjadi US$2,79 miliar. Segmen utama tetap coal mining dan perdagangan batu bara (US$2,48 miliar), diikuti oleh layanan TV kabel, internet, dan teknologi (US$211,79 juta), serta energi terbarukan (US$316,95 ribu). Pada 2025, DSSA tidak memperoleh pendapatan dari penyediaan tenaga uap dan listrik, berbeda dengan US$9,73 juta pada 2024.
Keuangan (BSIM & SMMA)
PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) melaporkan laba bersih Rp285,74 miliar, turun 1,75% YoY. Penurunan terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 27,61%, dari Rp2,70 triliun pada 2024 menjadi Rp1,95 triliun pada 2025. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) belum merilis laporan keuangan lengkap hingga akhir tahun 2025.
Properti (BSDE & DMAS)
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatat laba bersih Rp2,54 triliun, penurunan 41,6% dari tahun sebelumnya. Pendapatan usaha turun menjadi Rp12,78 triliun dari Rp13,79 triliun. Sementara PT Puradelta Sentosa Tbk (DMAS) mencatat penurunan laba bersih 39,93% menjadi Rp800,30 miliar, dengan pendapatan usaha Rp1,30 triliun dibandingkan Rp2,03 triliun pada 2024. Sekitar 88% pendapatan DMAS berasal dari segmen industri, didukung oleh penjualan lahan industri ke pelanggan di sektor data center, FMCG, dan pangan.
Ringkasan Kinerja
| Emiten | Laba Bersih 2025 | Perubahan YoY | Penjualan/Revenue |
|---|---|---|---|
| TKIM | US$275,8 juta (Rp4,61 triliun) | -7,17% | US$984,72 juta |
| INKP | US$453,34 juta (Rp7,57 triliun) | +6,84% | US$3,17 miliar |
| DSSA | US$230,53 juta (Rp3,85 triliun) | -25,41% | US$2,79 miliar |
| BSIM | Rp285,74 miliar | -1,75% | Rp1,95 triliun (bunga bersih) |
| BSDE | Rp2,54 triliun | -41,6% | Rp12,78 triliun |
| DMAS | Rp800,30 miliar | -39,93% | Rp1,30 triliun |
Secara keseluruhan, kinerja keuangan Sinarmas pada 2025 menunjukkan tren penurunan di sektor energi, keuangan, dan properti, sementara sektor pulp‑kertas menampilkan perbedaan hasil antara dua emiten utama. Dinamika pasar global, fluktuasi harga komoditas, dan perubahan kebijakan kredit menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil keuangan grup ini.












