Project Seru Penuh Kejutan

Khalifah Ahmadiyah Serukan Persatuan Umat Islam di Tengah Konflik Global, Seruan Serupa Dari Tokoh Nasional

April 11, 2026 • 0 Views
Khalifah Ahmadiyah Serukan Persatuan Umat Islam di Tengah Konflik Global, Seruan Serupa Dari Tokoh Nasional
Khalifah Ahmadiyah Serukan Persatuan Umat Islam di Tengah Konflik Global, Seruan Serupa Dari Tokoh Nasional

PSPK – 11 April 2026 | Jakarta – Di tengah gejolak geopolitik yang mengancam stabilitas dunia, para pemimpin keagamaan Indonesia kembali mengeluarkan seruan persatuan umat Islam. Khalifah Ahmadiyah, tokoh spiritual yang memiliki jutaan pengikut di seluruh dunia, menegaskan pentingnya persatuan lintas mazhab untuk menghadapi tantangan global. Seruan ini sejalan dengan pernyataan tokoh politik dan budaya lain, termasuk Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) yang menyerukan umat Islam bersatu demi melindungi Masjid Al‑Aqsha, serta seniman legendaris Rhoma Irama yang memuji Iran dan menekankan pentingnya persaudaraan antara Sunni, Syiah, dan Wahabi.

Seruan Khalifah Ahmadiyah: Persatuan sebagai Kunci Kelangsungan Islam

Khalifah Ahmadiyah dalam sebuah konferensi internasional menekankan bahwa perpecahan antar mazhab bukan hanya mengancam umat Islam secara spiritual, tetapi juga membuka celah bagi konflik berskala lebih luas. Ia menegaskan bahwa persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan doktrin, melainkan menumbuhkan rasa hormat dan kerja sama dalam mengatasi isu‑isu global seperti terorisme, perubahan iklim, dan ketidakadilan ekonomi.

“Kita harus bersatu dalam niat yang sama, yakni menegakkan keadilan dan perdamaian. Perbedaan mazhab harus menjadi kekayaan, bukan sumber permusuhan,” ujar Khalifah dalam sambutannya.

Hidayat Nur Wahid dan Ancaman terhadap Masjid Al‑Aqsha

Dalam acara di Jakarta, HNW menegaskan pentingnya solidaritas umat Islam untuk melindungi warisan suci Islam, terutama Masjid Al‑Aqsha yang kini berada dalam bahaya. Ia mengkritik keras kebijakan Israel yang membatasi ibadah umat Islam selama bulan Ramadan hingga pertengahan Syawal, sementara memberikan kebebasan penuh bagi umat Yahudi.

“Israel menerapkan standar ganda yang harus kita tolak. Kami menyerukan seluruh umat Islam untuk bersatu padu, baik di dalam maupun di luar negeri, guna memastikan keselamatan Al‑Aqsha,” tegasnya. HNW menambahkan bahwa tindakan Israel dapat berujung pada penggantian Masjid Al‑Aqsha dengan simbol-simbol lain yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Rhoma Irama: Simbol Persatuan Lintas Mazhab

Seniman legendaris Rhoma Irama, yang dikenal dengan sebutan Raja Dangdut, juga mengeluarkan pernyataan yang mendukung persatuan umat Islam. Dalam sebuah wawancara, ia memuji kebijakan Iran yang menurutnya menonjolkan nilai-nilai Islam moderat, serta menekankan pentingnya mengatasi sekat‑sekatan antara Sunni, Syiah, dan Wahabi.

“Kita harus melupakan perbedaan yang memecah belah. Islam adalah satu, dan kita harus bersatu dalam kebersamaan,” ucap Rhoma, menambahkan bahwa musik dan budaya dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antar mazhab.

Dimensi Global: Konflik dan Tantangan yang Memanggil Persatuan

Ketiga suara tersebut muncul di tengah ketegangan yang meluas, mulai dari konflik di Timur Tengah, persaingan geopolitik besar, hingga isu-isu internal seperti radikalisme dan intoleransi di beberapa negara. Persatuan umat Islam dipandang sebagai strategi utama untuk menanggulangi ancaman-ancaman tersebut.

  • Terorisme: Kelompok ekstremis sering memanfaatkan perbedaan mazhab untuk merekrut anggota.
  • Perubahan Iklim: Kerjasama lintas agama diperlukan untuk mengatasi dampak lingkungan yang memengaruhi komunitas Muslim di seluruh dunia.
  • Ekonomi: Ketidaksetaraan ekonomi dapat memperparah ketegangan sektarian, sehingga solidaritas menjadi kunci distribusi sumber daya yang adil.

Langkah Konkret Menuju Persatuan

Beberapa langkah yang diusulkan meliputi:

  1. Penyelenggaraan forum inter‑mazhab secara rutin, melibatkan ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat.
  2. Penerbitan materi edukatif yang menekankan nilai-nilai bersama dalam Al‑Qur’an dan Hadits.
  3. Penguatan lembaga-lembaga keagamaan yang bersifat non‑politikal namun memiliki otoritas moral.
  4. Kolaborasi dengan organisasi internasional untuk memantau dan menanggapi pelanggaran hak beribadah, seperti yang terjadi di Al‑Aqsha.

Seruan-seruan ini mendapat sambutan positif dari kalangan muda yang semakin kritis terhadap perpecahan. Mereka melihat kesempatan untuk membangun jaringan persaudaraan yang lebih kuat, baik secara daring maupun luring.

Dengan mengintegrasikan pesan Khalifah Ahmadiyah, HNW, dan Rhoma Irama, Indonesia tampaknya berada pada posisi strategis untuk menjadi contoh negara mayoritas Muslim yang mampu memelihara persatuan dalam keberagaman. Upaya kolektif ini diharapkan tidak hanya melindungi situs-situs bersejarah seperti Al‑Aqsha, tetapi juga memperkuat identitas Islam yang inklusif di panggung dunia.

Jika semua pihak dapat menanggapi panggilan tersebut dengan tindakan nyata, maka persatuan umat Islam tidak hanya menjadi slogan retoris, melainkan fondasi kuat untuk mengatasi konflik global yang semakin kompleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *