PSPK – 10 April 2026 | Timredaksi, Medan – Pada dini hari Selasa, 7 April 2026, sebuah kapal pukat teri bernama KM Sumber Indah III meledak di perairan Belawan, Sumatra Utara, menewaskan tiga anggota kapal (ABK) sekaligus menambah lima orang yang masih hilang. Insiden ini menggemparkan dunia kelautan Indonesia dan memicu operasi pencarian serta evakuasi yang melibatkan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) I, Basarnas, serta kapal nelayan setempat.
Rangkaian Kronologi Kejadian
- Senin, 6 April 2026 – KM Sumber Indah III berangkat dari dermaga Belawan dengan 21 orang ABK, berlayar menuju timur laut untuk menangkap ikan teri.
- Pukul 02.10 WIB, awak kapal bernama Aliman pergi ke kamar tekong untuk meminjam charger ponsel, lalu turun ke ruang mesin untuk mengisi daya. Ia melihat mesin turbo berwarna merah panas.
- Aliman melaporkan temuan tersebut kepada tekong bernama Aciu, namun sebelum Aciu dapat menanggapi, mesin meledak diikuti ledakan tabung gas 12 kilogram.
- Ledakan menyebabkan kebakaran hebat; ABK berteriak panik dan melompat ke laut untuk menyelamatkan diri.
- Setengah jam kemudian, kapal pukat lain, KM Mandiri, mendekat dan menemukan tiga ABK yang mengapung tak bernyawa serta 13 ABK selamat, dua di antaranya mengalami luka bakar.
Setelah kejadian, korban selamat dibawa ke Dermaga TPI Gabion Belawan untuk evakuasi. Tim TNI AL tiba sekitar pukul 08.30 WIB, membantu proses evakuasi, sementara KM Mandiri tiba di dermaga pada pukul 09.00 WIB. Kapal yang terbakar berhasil ditarik ke dermaga pada pukul 16.00 WIB, dan pencarian terhadap lima ABK yang masih hilang terus berlanjut.
Respons Pihak Berwenang
Kolosel Laut (S) Wahyu Kurniawan, Kadispen Kodaeral I, menjelaskan bahwa kebakaran terjadi saat sebagian besar ABK sedang beristirahat, sehingga korban tersebar sejak awal. Ia menambahkan bahwa kondisi gelap malam menyulitkan proses evakuasi awal, mengandalkan kapal nelayan terdekat yang kebetulan berada di lokasi.
Wahyu menegaskan bahwa tim gabungan, termasuk kapal perang TNI AL, sedang menyisir area perairan Belawan secara luas tanpa titik pasti lokasi terakhir korban. “Tim harus menyisir area yang cukup luas tanpa titik pasti lokasi korban terakhir,” ujarnya melalui telepon pada 10 April 2026.
Upaya Pencarian dan Penyelamatan
Basarnas bersama Kodaeral I melakukan pencarian intensif dengan menggunakan perahu cepat, perahu penyelamat, serta tim SAR udara. Namun, tantangan utama adalah ketidakpastian koordinat terakhir korban dan kondisi cuaca yang berubah-ubah.
Identitas lengkap korban hilang masih dalam proses pendataan, sehingga pencarian dilakukan dengan metode penyisiran umum. Tim penyelamat menyiapkan peralatan selam, sonar, serta drone laut untuk mendeteksi keberadaan korban di perairan yang dalam.
Reaksi Masyarakat dan Analisis Awal
Berita tentang tragedi ini cepat menyebar di media sosial, menimbulkan keprihatinan luas terhadap keselamatan nelayan Indonesia. Pengamat kelautan menilai bahwa pemeliharaan mesin kapal dan prosedur keselamatan harus ditingkatkan, terutama pada kapal kecil yang tidak dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran gas.
Insiden ini menambah daftar kecelakaan laut yang menyoroti kebutuhan regulasi ketat mengenai inspeksi kapal, pelatihan keselamatan, serta penyediaan peralatan pemadam kebakaran yang memadai pada kapal nelayan.
Kesimpulan
Tragedi kebakaran KM Sumber Indah III di perairan Belawan menewaskan tiga ABK dan meninggalkan lima orang masih hilang, menegaskan pentingnya penegakan standar keselamatan maritim di Indonesia. Upaya pencarian terus berlangsung, dengan harapan semua korban dapat ditemukan dan keluarga mereka menerima kejelasan. Pemerintah dan otoritas kelautan diharapkan memperkuat regulasi serta memberikan pelatihan yang lebih intensif bagi para pelaut untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.












