PSPK – 24 April 2026 | Mulai 1 Mei 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi meluncurkan layanan Kereta Api Sangkuriang yang menghubungkan Stasiun Bandung dengan Stasiun Ketapang di Banyuwangi. Dengan total jarak 1.002 km, KA Sangkuriang menjadi rute antarkota terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Blambangan Ekspres. Keunikan layanan ini terletak pada pemberhentian strategis di Yogyakarta dan Solo, yang membuka peluang wisata lintas provinsi tanpa harus berganti moda transportasi.
Rute dan Pemberhentian KA Sangkuriang
Kereta melintasi jalur selatan Jawa, melewati sejumlah kota penting sebelum mencapai tujuan akhir di Banyuwangi. Pemberhentian utama meliputi:
- Bandung (Jawa Barat)
- Tasikmalaya
- Ciamis
- Banjar
- Kroya
- Yogyakarta (DI Yogyakarta)
- Solo (Jawa Tengah)
- Madiun
- Surabaya
- Probolinggo
- Lumajang
- Jember
- Banyuwangi (Jawa Timur)
Pemberhentian di Yogyakarta dan Solo memberikan akses langsung bagi wisatawan yang ingin menjelajahi situs budaya, kuliner, serta destinasi alam di kedua kota tersebut. Penumpang dapat turun di Stasiun Yogyakarta kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan KRL Jogja‑Solo atau moda transportasi lokal.
Koneksi Lokal: KRL Jogja‑Solo
KRL Jogja‑Solo, yang beroperasi setiap hari, melayani rute dari Stasiun Yogyakarta ke Stasiun Palur (Solo) dengan 13 pemberhentian. Jadwal keberangkatan tersebar dari pagi hingga malam dengan interval 60‑90 menit, sehingga penumpang KA Sangkuriang dapat menyesuaikan waktu transfer tanpa harus menunggu lama. Tarif satu arah hanya Rp 8.000, dapat dibayar lewat Kartu Multi Trip, kartu elektronik bank, atau QR‑code dompet digital.
Berikut contoh jadwal keberangkatan KRL Jogja‑Solo pada hari kerja:
- 06:30 – Yogyakarta ke Lempuyangan
- 07:45 – Lempuyangan ke Maguwo
- 09:10 – Maguwo ke Brambanan
- 10:30 – Brambanan ke Srowot
- 12:00 – Srowot ke Klaten
- 13:30 – Klaten ke Ceper
- 15:00 – Ceper ke Delanggu
- 16:20 – Delanggu ke Gawok
- 17:45 – Gawok ke Purwosari
- 19:10 – Purwosari ke Solo Balapan
- 20:30 – Solo Balapan ke Solo Jebres
- 22:00 – Solo Jebres ke Palur
Integrasi jadwal ini memungkinkan wisatawan yang turun di Yogyakarta untuk melanjutkan perjalanan ke Solo dalam hitungan jam, atau sebaliknya, tanpa harus mengandalkan transportasi pribadi.
Dampak terhadap Pariwisata Jawa
Keberadaan KA Sangkuriang memperkuat jaringan transportasi massal di Pulau Jawa. Beberapa manfaat yang dapat diharapkan antara lain:
- Pengurangan transit: Penumpang tidak lagi perlu berpindah kereta atau bus di tengah perjalanan, sehingga waktu tempuh menjadi lebih efisien.
- Pengembangan destinasi regional: Kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, dan bahkan daerah wisata alam seperti Gunung Sumbing di Magelang dapat menarik lebih banyak kunjungan karena akses kereta yang mudah.
- Stimulus ekonomi lokal: Peningkatan penumpang berpotensi meningkatkan pendapatan sektor perhotelan, kuliner, serta usaha kecil di sekitar stasiun.
Sebagai contoh, pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Sumbing kini dapat memanfaatkan KA Sangkuriang hingga Stasiun Yogyakarta, melanjutkan dengan KRL ke Solo atau bus ke Magelang, dan akhirnya menempuh jalur lokal ke Kaliangkrik. Kombinasi moda transportasi ini menjadikan rute pendakian lebih terstruktur dan ramah lingkungan.
Dengan tarif yang kompetitif serta jadwal yang terkoordinasi, KA Sangkuriang tidak hanya menjadi pilihan praktis bagi pelaku bisnis dan keluarga, melainkan juga membuka peluang baru bagi wisatawan domestik yang ingin mengeksplorasi kekayaan budaya serta alam Jawa dalam satu tiket perjalanan.
Ke depan, KAI berencana menambah fasilitas layanan seperti Wi‑Fi, ruang kerja, dan gerbong kelas bisnis untuk meningkatkan kenyamanan penumpang jarak jauh. Upaya ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat transportasi publik sebagai tulang punggung mobilitas nasional.
Secara keseluruhan, kehadiran KA Sangkuriang di Yogyakarta dan Solo menandai era baru perjalanan lintas provinsi yang lebih cepat, terintegrasi, dan ramah lingkungan, memperkuat posisi Jawa sebagai poros ekonomi dan pariwisata Indonesia.












