PSPK – 14 April 2026 | Contact nap memang sering dipandang sebagai momen paling hangat antara bayi dan pengasuhnya. Sentuhan langsung dapat menenangkan si kecil, memperbaiki pola tidur, dan memperkuat ikatan emosional. Namun, di balik manfaatnya terdapat beberapa risiko yang perlu diperhatikan agar praktik ini tetap aman.
Risiko tertidur tanpa sadar
Ketika pengasuh memeluk bayi dalam posisi santai, tubuh dapat ikut rileks hingga mengantuk. Jika pengasuh tertidur bersama bayi, peluang terjadinya Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS) dapat meningkat. Untuk meminimalkan bahaya, disarankan menghindari tempat duduk yang terlalu empuk, seperti kursi goyang atau sofa besar, serta meminta orang lain sesekali memeriksa kondisi ketika rasa kantuk mulai muncul.
Terasa “terjebak” saat bayi tidur
Seringkali, bayi yang tertidur dalam pelukan membuat waktu terasa berhenti dan sulit dipindahkan. Hal ini dapat mengganggu aktivitas pengasuh, terutama jika harus tetap berada di posisi yang sama selama periode tidur siang bayi. Pilih momen yang tepat untuk melakukan contact nap, sehingga tidak mengorbankan kegiatan penting lainnya.
Bayi menjadi bergantung dan sulit tidur sendiri
Jika contact nap dilakukan terlalu sering, sebagian bayi dapat mengembangkan ketergantungan pada kehadiran pengasuh untuk tertidur. Pada tahun pertama kehidupan, kebiasaan ini dapat membuat bayi sulit kembali tidur tanpa bantuan fisik, yang pada gilirannya dapat menantang pola tidur mandiri mereka.
Untuk tetap menikmati manfaat contact nap tanpa menimbulkan risiko, penting bagi pengasuh untuk tetap waspada, mengatur durasi, dan memastikan lingkungan tidur tetap aman. Dengan persiapan dan pengawasan yang tepat, contact nap dapat tetap menjadi momen berharga tanpa mengorbankan keselamatan.












