Project Seru Penuh Kejutan
Berita  

Gempa Hebat Guncang Koltim Sulawesi Utara: Aktivitas Sesar Aktif Dorong Pusat Gempa ke Pulau Batang Dua, Magnitudo Mencapai 7,6

April 10, 2026 • 0 Views
Gempa Hebat Guncang Koltim Sulawesi Utara: Aktivitas Sesar Aktif Dorong Pusat Gempa ke Pulau Batang Dua, Magnitudo Mencapai 7,6
Gempa Hebat Guncang Koltim Sulawesi Utara: Aktivitas Sesar Aktif Dorong Pusat Gempa ke Pulau Batang Dua, Magnitudo Mencapai 7,6

PSPK – 10 April 2026 | Sabtu pagi (9/4/2026) wilayah timur laut Indonesia kembali dilanda gempa bumi kuat yang berpusat di kawasan Koltim Sulawesi Utara (Sultra). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa utama dengan magnitudo 7,6 menggetarkan pulau-pulau utama, termasuk Ternate, Manado, dan Gorontalo. Guncangan terasa hingga beberapa ratus kilometer dari pusat gempa, menimbulkan kepanikan singkat di wilayah pesisir.

Menurut deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, penyebab utama gempa ini adalah pergerakan sesar aktif yang melintasi zona subduksi di lepas pantai timur laut Sulawesi. Aktivitas sesar tersebut memicu pelepasan energi secara tiba-tiba, sehingga menghasilkan gempa utama sekaligus rangkaian gempa susulan yang kini diperkirakan akan berkurang secara bertahap dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Data Gempa Susulan dan Tren Penurunan

Sejak gempa utama pada hari Kamis (2/4/2026), BMKG mencatat total 1.378 gempa susulan di wilayah Maluku Utara (Malut) dan Sulawesi Utara. Pada hari pertama, tercatat 394 kejadian, menurun menjadi 91 pada hari keenam, dan 63 pada hari ketujuh. Hingga pukul 06.00 WIB, Sabtu (9/4/2026), tercatat 25 gempa susulan yang sempat dirasakan oleh masyarakat. Meskipun tren menunjukkan penurunan, intensitas gempa selama masa peluruhan bersifat fluktuatif, sehingga getaran yang dirasakan sesekali masih muncul.

Intensitas Makroseismik dan Potensi Tsunami

Tim gabungan BMKG yang melibatkan kantor pusat, Balai Besar MKG Wilayah IV, serta unit pelaksana teknis di Maluku Utara dan Sulawesi Utara melakukan survei makroseismik di lapangan. Hasil survei menunjukkan tingkat guncangan tertinggi mencapai skala VII pada Skala Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kecamatan Pulau Batang Dua, Ternate. Peta guncangan yang dirilis BMKG menegaskan daerah tersebut sebagai zona paling terdampak.

Selain itu, petugas menemukan indikasi jejak tsunami dengan ketinggian antara 0,5 hingga 1,5 meter di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara. Meskipun peringatan dini tsunami berstatus siaga pada saat gempa, tidak ada laporan kerusakan signifikan akibat gelombang laut yang masuk.

Upaya Mitigasi dan Respons Pemerintah

Pemerintah daerah setempat, bersama BMK G, meluncurkan program kajian mikrozonasi untuk memetakan kerentanan tanah terhadap potensi likuefaksi dan longsor. Sosialisasi mitigasi bencana juga digencarkan melalui pertemuan desa, penyuluhan sekolah, dan media lokal, guna meningkatkan kesiapsiagaan warga.

Di Ternate, pemkot telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi. Tim SAR dan pemulihan segera dikerahkan untuk mengevakuasi penduduk di daerah rawan, memperbaiki infrastruktur kritis, dan menyalurkan bantuan logistik. Hingga saat ini, 233 bangunan dilaporkan rusak ringan hingga sedang, sementara tidak ada laporan korban jiwa.

Proyeksi Kedepan

BMKG menegaskan bahwa rangkaian gempa susulan merupakan proses alami pelepasan energi setelah gempa besar. Statistik menunjukkan bahwa intensitas akan terus melemah dalam beberapa pekan ke depan, namun wilayah dengan tanah lunak tetap berisiko longsor. Oleh karena itu, otoritas daerah diimbau untuk terus memantau pergerakan tanah dan memperkuat bangunan publik.

Gempa ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik. Dengan pemantauan seismik yang terus ditingkatkan dan edukasi publik yang konsisten, risiko dampak fatal dapat diminimalisir.

Secara keseluruhan, meskipun gempa utama yang mengguncang Koltim Sultra menimbulkan kerusakan material, respons cepat dari BMKG, pemerintah, dan masyarakat berhasil menahan dampak yang lebih luas. Upaya mitigasi berkelanjutan dan pemantauan sesar aktif menjadi kunci utama dalam mengantisipasi kejadian seismik serupa di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *