PSPK – 13 April 2026 | Paus Leo, pemimpin Gereja Katolik yang terpilih pada bulan Mei lalu, menyampaikan pidato yang berapi-api pada Sabtu, 11 April di Basilika Santo Petrus. Dalam doa bersama untuk perdamaian, beliau menegaskan bahwa dunia sudah terlalu lama dipenuhi konflik, khususnya di wilayah Timur Tengah, dan menyerukan kepada miliaran umat di seluruh dunia untuk kembali menumbuhkan rasa cinta, moderasi, serta politik yang baik.
Dengan nada yang terukur namun tegas, Paus Leo menolak segala bentuk penyembahan diri, uang, dan pameran kekuasaan. “Cukup sudah perang! Kekuatan sejati terletak pada melayani kehidupan,” ujar beliau, menekankan pentingnya iman sebagai landasan untuk menghadapi masa-masa dramatis dalam sejarah bersama.
Lebih lanjut, Paus mengingatkan para pemimpin negara untuk menurunkan senjata dan duduk di meja dialog serta mediasi, bukan di ruang perencanaan kembali persenjataan. Ia tidak menyebut nama politisi atau negara tertentu, namun menyoroti tanggung jawab kolektif semua pihak yang menolak perang untuk membangun apa yang disebutnya “Kerajaan Perdamaian” di rumah, sekolah, lingkungan, serta komunitas sipil dan keagamaan.
Kerajaan Perdamaian itu digambarkan sebagai benteng melawan ilusi kekuasaan yang tak terkendali, sebuah tempat tanpa pedang, drone, balas dendam, atau keuntungan tidak adil, melainkan hanya martabat, pengertian, dan pengampunan. Paus Leo melukiskan kondisi dunia saat ini sebagai “tanah dimana tampaknya tidak pernah ada cukup kuburan, karena orang terus menyalibkan satu sama lain dan menghilangkan kehidupan tanpa memikirkan keadilan dan belas kasihan.”
Sebagai seorang moderat dan pembangun jembatan, Paus Leo semakin sering mengkritik konflik yang memecah belah, terutama kekerasan di Tanah Suci yang ia sebut tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Ia juga menekankan perlunya de‑eskalasi dalam perang antara AS‑Israel dan Iran, serta menuntut solusi diplomatik yang dapat menghentikan penderitaan rakyat.
Pernyataan Paus Leo ini mencerminkan keprihatinan Gereja Katolik terhadap dampak perang yang meluas, sekaligus menegaskan komitmen moral untuk menegakkan perdamaian global melalui dialog, kasih, dan tindakan yang berlandaskan nilai-nilai rohani.












