PSPK – 11 April 2026 | JAKARTA, 10 April 2026 – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdikTisaintek) mengumumkan bahwa sebanyak 18.215 proposal riset dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia berhasil memperoleh pendanaan sebesar Rp1,7 triliun untuk tahun anggaran 2026. Angka ini menandai peningkatan signifikan dalam alokasi dana riset nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima dalam sebuah keterangan tertulis, menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha agar hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, melainkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Pendanaan tersebut dibagi ke dalam sembilan program utama, antara lain:
- Program Penelitian
- Program Pengabdian kepada Masyarakat
- Program Hilirisasi Riset Prioritas
- Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak
- Program Inovasi Seni Nusantara
- Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI‑PT)
- Program Mahasiswa Berdampak
- Program Pengujian Model dan Prototipe
- Program PHC‑Nusantara
Setiap program diarahkan untuk menjawab tantangan strategis nasional, mulai dari penanganan stunting, ketahanan pangan, kemandirian energi, penurunan tuberkulosis, hingga pengembangan industri semikonduktor dan rehabilitasi pasca‑bencana.
Distribusi dana per sektor strategis tercermin dalam tabel berikut:
| Sektor | Persentase Pendanaan |
|---|---|
| Kesehatan | 27% |
| Ketahanan Pangan | 25% |
| Hilirisasi & Industrialisasi | 16% |
| Digitalisasi (AI & Semikonduktor) | 15% |
| Energi | 7% |
| Manufaktur & Material Maju | 4% |
| Maritim | 4% |
| Pertahanan | 2% |
Secara geografis, penerima dana tersebar di seluruh 38 provinsi Indonesia. Dari total penerima, 40% berasal dari perguruan tinggi negeri atau negeri berbadan hukum, sementara 60% sisanya merupakan institusi swasta.
Rincian pencairan dana per program menunjukkan fokus pada kualitas dan dampak:
- Program Penelitian: 13.028 proposal terpilih dengan total pendanaan Rp1,04 triliun.
- Program Pengabdian kepada Masyarakat: 3.328 tim terpilih, mendapat Rp167 miliar untuk kegiatan di daerah 3T, kelompok rentan, dan masyarakat adat.
- Program Hilirisasi Riset Prioritas: 925 proposal mendapat Rp318 miliar untuk mempercepat transfer teknologi ke industri.
- Program Pengujian Model dan Prototipe: 354 proposal memperoleh Rp46 miliar guna validasi di lapangan.
- Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak: 102 konsorsium mendapat Rp62,4 miliar untuk riset terintegrasi lintas lembaga.
- Pusat Unggulan IPTEK‑PT: 17 pusat terpilih dengan dana Rp7,85 miliar untuk memperkuat institusi riset.
- Program Mahasiswa Berdampak: 202 judul proyek didanai Rp21,9 miliar, menempatkan lebih dari 10.000 mahasiswa di daerah rawan bencana.
- Program Inovasi Seni Nusantara: 244 judul seni tradisional menerima Rp17,5 miliar.
- Program PHC‑Nusantara: 15 proyek kolaborasi Indonesia‑Prancis mendapatkan Rp2,2 miliar.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa skema pendanaan tahun ini dirancang untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset, memperkuat ekosistem inovasi, dan memastikan akuntabilitas dalam pelaksanaan. Penyesuaian jadwal pengumuman juga dilakukan untuk mendukung implementasi kebijakan honorarium peneliti sebesar 25% pada tahun anggaran 2026.
Dengan total dana Rp1,7 triliun, pemerintah berharap ekosistem riset nasional dapat menghasilkan solusi konkret yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan daya saing Indonesia di kancah global.












