PSPK – 10 Maret 2026 | Denpasar, 9 Maret 2026 – Lomba Ogoh‑Ogoh Besar Kasanga Festival 2026 kembali menjadi sorotan utama dunia budaya Bali setelah ogoh‑ogoh “Wit Kawit” dari Sekaa Teruna (ST) Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah Sidakarya, meraih posisi Juara I. Sementara itu, karya ST Cantika dengan ikon Dewi Saraswati hanya berhasil mengamankan gelar Juara Favorit, bukan masuk enam besar utama. Keputusan ini memicu perbincangan luas, terutama setelah salah satu juri, I Gede Anom Ranuara, memberikan penjelasan terperinci mengenai faktor‑faktor yang memengaruhi penilaian.
Profil Pemenang Utama: Wit Kawit
Ogoh‑ogoh “Wit Kawit” menonjol dengan desain anatomi, proporsi, serta angle yang tepat. Selain itu, penampilan pada pawai menampilkan atraksi dinamis berkat mesin penggerak yang memutar, sehingga menciptakan kesan visual yang kuat. Ketua Sekaa Teruna, Putu Ade Cahya Mahardika Putra, menyatakan bahwa karakter Burung Gaga yang diangkat mengusung kisah “Kutukan Cukumanik”, menambah dimensi naratif pada karya tersebut.
Penilaian terhadap “Wit Kawit” mencakup dua tahap utama: penilaian on‑the‑spot (fisik ogoh‑ogoh) dan penilaian konseptual serta pertunjukan setelah lolos ke 16 besar. Menurut Ketua Panitia, Yogi Pramana, bobot penilaian pawai mencapai 35 %, dengan tambahan pertimbangan perbaikan yang diberikan juri di lokasi. “Kami menilai tidak hanya estetika, tetapi juga kesesuaian dengan nilai etika dan tradisi,” ujar Pramana.
Alasan Dewi Saraswati Tidak Masuk Enam Besar
Ogoh‑ogoh ST Cantika dengan tema “Banyu Pinaruh” dan ikon Dewi Saraswati awalnya meraih nilai tertinggi pada nominasi 16 besar. Namun, dalam proses penjurian on‑the‑spot, I Gede Anom Ranuara mengidentifikasi sebuah detail penting: posisi kaki Dewi Saraswati digambarkan “nengkleng”, yakni satu kaki terangkat, yang dianggap tidak sesuai dengan representasi tradisional Dewi Saraswati yang selalu berdiri tegak.
“Sudah menjadi kesepakatan di sekolah‑sekolah bahwa posisi kaki Dewi Saraswati tidak ada nengkleng. Jika anak‑anak melihat ogoh‑ogoh dengan posisi itu, mereka mungkin akan memprotes representasi yang tidak tepat,” jelas Anom. Ia menambahkan bahwa ia telah berkoordinasi dengan arsitek ogoh‑ogoh untuk memastikan anatomi yang akurat sebelum pembuatan.
Keputusan ini, meski menimbulkan kontroversi, mencerminkan pertimbangan etika yang diterapkan juri. “Tiang bisa terima kalau dia juara favorit. Memang itu publik yang menilai, tapi untuk kami juri ada pertimbangan etika,” tambahnya.
Proses Penilaian dan Kriteria
- Anatomi dan Proporsi: Kesesuaian bentuk tubuh ogog‑ogoh dengan referensi tradisional.
- Angle dan Psikoplastis: Penempatan sudut dan efek visual yang menonjol.
- Pawai (35 % bobot): Penampilan dinamis, koreografi, serta respons penonton.
- Konsep dan Ideoplastis: Kedalaman narasi dan kreativitas konsep.
Juri menilai secara holistik, menggabungkan aspek teknis dan estetika dengan nilai budaya. Penilaian on‑the‑spot juga mencakup inspeksi langsung ke banjar‑banjar, dimana tiga juri pertama kali menyadari ketidaksesuaian pada posisi kaki Dewi Saraswati.
Reaksi Peserta dan Publik
Setelah pengumuman, tenda pameran ogoh‑ogoh “Wit Kawit” dipadati pengunjung yang antusias, mencatat peningkatan minat terhadap karya seni tradisional yang dipadukan dengan inovasi teknologi. Putu Ade berharap festival dapat terus diadakan tahunan, menambahkan kategori baru untuk menampung kreativitas yang semakin beragam.
Di sisi lain, pendukung “ST Cantika” mengungkapkan kekecewaan namun tetap menghargai keputusan juri yang menekankan keakuratan budaya. “Kami mengerti pentingnya representasi yang tepat, meski kami berharap ada ruang lebih fleksibel dalam interpretasi modern,” ujar seorang anggota Banjar Sedana Mertha.
Kesimpulan
Kasanga Festival 2026 berhasil menampilkan perpaduan antara tradisi dan inovasi melalui ogoh‑ogoh yang memukau. “Wit Kawit” mengukir prestasi sebagai Juara I berkat keseimbangan anatomi, proporsi, serta penampilan pawai yang memikat. Sementara keputusan menjadikan Dewi Saraswati hanya Juara Favorit menegaskan komitmen juri terhadap etika budaya dan akurasi representasi tradisional. Festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga platform edukatif bagi generasi muda dalam melestarikan warisan budaya Bali.












