PSPK – 21 Maret 2026 | Menjelang Hari Raya Idulfitri, warga di Selangor, Malaysia, kembali memusatkan perhatian pada lemang, hidangan tradisional yang dimasak dalam selongsong bambu. Lemang, terbuat dari beras ketan dan santan, menjadi makanan wajib di meja Lebaran karena rasa gurihnya yang khas serta aroma asap bambu yang menambah keistimewaan.
Beberapa hari sebelum Idulfitri, para pembuat lemang terlihat sibuk menyiapkan pesanan dalam jumlah besar. Proses memasak dilakukan dengan menata beras ketan yang telah direndam santan ke dalam bambu, kemudian diletakkan di atas api unggun. Selama proses pemasakan, aroma asap bambu menyebar, menghasilkan tekstur lembut dan cita rasa yang otentik.
Salah satu pengrajin lemang, Mohd Arifin Zakaria, menjelaskan bahwa usahanya telah berjalan sejak sebelum pandemi COVID‑19. “Kami terus beroperasi setiap hari menjelang Lebaran, karena permintaan konsumen tetap tinggi,” ujar Arifin. Untuk meningkatkan efisiensi, ia dan rekan‑rekannya beralih menggunakan daun lerek sebagai pelapis bambu, menggantikan daun pisang tradisional. Daun lerek mempermudah proses pengeluaran lemang yang telah matang, sekaligus tetap menjaga rasa yang diharapkan.
Kualitas bahan baku tetap menjadi fokus utama. Beras ketan pilihan dan santan segar dipastikan bebas dari bahan pengawet, sehingga rasa lemang tetap konsisten. Keberlanjutan tradisi ini tidak hanya dipertahankan oleh para pembuat, tetapi juga mendapat dukungan kuat dari konsumen yang menganggap lemang sebagai simbol kebersamaan dan kenangan Lebaran.
Selain menjadi hidangan utama, lemang juga sering dijadikan hadiah bagi tetangga dan kerabat. Praktik memberi lemang mencerminkan nilai gotong‑royong serta kehangatan budaya Melayu di Selangor. Dengan meningkatnya permintaan, para pengrajin berupaya memperluas jaringan penjualan, termasuk melalui pemesanan daring, sehingga lebih banyak orang dapat menikmati lemang meski berada jauh dari pusat produksi.












