Project Seru Penuh Kejutan

Terungkap! Bolehkah Minum Teh Saat Berbuka? Ini Dampak Mengejutkan pada Perut Kosong dan Risiko GERD

March 10, 2026 • 0 Views
Terungkap! Bolehkah Minum Teh Saat Berbuka? Ini Dampak Mengejutkan pada Perut Kosong dan Risiko GERD
Terungkap! Bolehkah Minum Teh Saat Berbuka? Ini Dampak Mengejutkan pada Perut Kosong dan Risiko GERD

PSPK – 10 Maret 2026 | Ramadan telah tiba, dan jutaan umat Muslim menantikan momen berbuka puasa. Di antara pilihan minuman yang paling populer, teh selalu menempati posisi utama. Namun, apakah teh aman dikonsumsi saat perut masih kosong? Artikel ini mengupas tuntas manfaat dan risiko minum teh saat berbuka, khususnya hubungannya dengan penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) yang kini kerap disebut sebagai “penyakit Gen Z”.

Bagaimana Tubuh Merespon Minuman Hangat Saat Perut Kosong?

Setelah berjam‑jam berpuasa, lambung berada dalam kondisi hampir kosong. Ketika cairan masuk, terutama yang bersifat asam atau mengandung kafein, produksi asam lambung dapat meningkat secara signifikan. Menurut situs EMC, produksi asam lambung memang dapat naik selama periode puasa, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bila asam tersebut tidak segera terkontrol.

Teh, terutama teh hitam atau hijau, mengandung kafein yang dapat merangsang sekresi asam. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau terlalu cepat, asam berlebih berpotensi naik ke kerongkongan, memicu gejala heartburn, nyeri dada, atau bahkan refluks kronis.

Gerakan GERD dan Fenomena “Penyakit Gen Z”

GERD (gastroesophageal reflux disease) adalah kondisi dimana asam lambung naik kembali ke esofagus, menimbulkan rasa terbakar dan iritasi. Selama beberapa tahun terakhir, dokter dan media kesehatan menyebut peningkatan kasus GERD di kalangan generasi Z sebagai “penyakit Gen Z”. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperingatkan bahwa kebiasaan makan berlebihan saat berbuka—sering disebut bukber—dapat memicu GERD.

Dalam video yang diunggah oleh kanal RSUD Dr. Moewardi Official, dr. Didik Prasetyo, Sp.PD, menjelaskan bahwa puasa yang dilakukan dengan pola makan teratur dapat membantu meringankan gejala GERD. Namun, bila berbuka dengan mengonsumsi banyak makanan atau minuman sekaligus, termasuk teh berkafein, risiko refluks meningkat.

Studi Ilmiah Tentang Puasa dan GERD

Penelitian berjudul The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease melibatkan 130 pasien, membagi mereka menjadi kelompok yang berpuasa dan tidak berpuasa. Hasilnya menunjukkan skor gejala GERD pada kelompok yang berpuasa secara signifikan lebih rendah dibandingkan yang tidak berpuasa. Penelitian ini menegaskan bahwa puasa yang diiringi pola makan sehat—tidak berlebihan—dapat menurunkan intensitas GERD.

Tips Aman Minum Teh Saat Berbuka

  • Mulai dengan cairan ringan. Sebaiknya buka puasa dengan segelas air putih atau kurma terlebih dahulu, menunggu sekitar 10‑15 menit sebelum mengonsumsi teh.
  • Pilih teh rendah kafein. Teh herbal seperti chamomile atau rooibos mengandung sedikit atau tanpa kafein, sehingga menurunkan risiko peningkatan asam lambung.
  • Hindari gula berlebih. Menambahkan banyak gula atau madu dapat meningkatkan beban kalori dan memperburuk refluks.
  • Minum secara perlahan. Ambil tegukan kecil, jangan sekaligus meneguk seluruh gelas.
  • Perhatikan waktu. Jika Anda memiliki riwayat GERD, sebaiknya menunggu hingga makanan utama selesai dicerna (sekitar 30‑45 menit) sebelum menikmati teh.

Risiko Makan Berlebihan Saat Bukber

Menteri Kesehatan menekankan bahwa makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat dapat “kaget” pada lambung, memicu produksi asam berlebih, dan memperparah GERD. Kebiasaan ini tidak hanya meningkatkan risiko refluks, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan lainnya seperti kembung, mual, dan nyeri perut.

Oleh karena itu, penting bagi siapa pun—terutama penderita GERD atau yang memiliki riwayat asam lambung naik—untuk mengatur porsi dan kecepatan makan serta memilih minuman yang tidak menambah beban asam.

Kesimpulannya, minum teh saat berbuka tidak dilarang secara mutlak, tetapi harus dilakukan dengan strategi yang tepat. Kombinasikan teh rendah kafein, konsumsi secara perlahan, dan hindari kombinasi dengan makanan berat dalam satu waktu. Dengan pendekatan ini, Anda dapat tetap menikmati secangkir teh hangat sambil menjaga kesehatan pencernaan selama Ramadan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *