Project Seru Penuh Kejutan

Samuel Sekuritas Genggam 162,67 Juta Saham RLCO dan 5,5% BKSL: Target Rp 80 Ribu Picu Polemik di Pasar

March 4, 2026 • 0 Views
Samuel Sekuritas Genggam 162,67 Juta Saham RLCO dan 5,5% BKSL: Target Rp 80 Ribu Picu Polemik di Pasar
Samuel Sekuritas Genggam 162,67 Juta Saham RLCO dan 5,5% BKSL: Target Rp 80 Ribu Picu Polemik di Pasar

PSPK – 04 Maret 2026 | PT Samuel Sekuritas Indonesia (kode broker: IF) kini berada di sorotan publik setelah data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengungkap kepemilikan total 162,67 juta lembar saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), setara 5,2% dari total saham emiten sarang burung walet tersebut. Rincian kepemilikan terbagi antara Samuel Sekuritas Indonesia yang memegang 87,91 juta lembar (2,81%) dan induknya, PT Samuel Tumbuh Bersama, yang menguasai 74,76 juta lembar (2,39%).

RLCO baru mencatatkan perdana sahamnya pada 8 Desember 2025 dan langsung menjadi emiten ke‑25 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak IPO, harga saham RLCO sempat melambung lebih dari 5.000% hingga mencapai level Rp 8.700 pada 20 Januari 2026, sebelum akhirnya disuspensi oleh BEI karena volatilitas ekstrem.

Target Harga Rp 80 Ribu: Antara Optimisme dan Kekhawatiran

Dalam riset yang dipublikasikan akhir Januari, analis Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi, menyatakan bahwa RLCO berpotensi melampaui target harga Rp 80.000 per saham, setara kenaikan 820% dari harga saat itu. Proyeksi tersebut didasarkan pada dua skenario utama: pertama, inklusi RLCO ke dalam Indeks MSCI Small Cap dengan kapitalisasi pasar disesuaikan Rp 5,5 triliun (sekitar Rp 8.800 per saham); kedua, kemungkinan masuk ke dalam Indeks MSCI Large Cap dengan kapitalisasi pasar Rp 50,1 triliun.

Namun, proyeksi tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan investor ritel yang menilai target Rp 80 ribu sebagai indikasi praktik “pump and dump”. Kekhawatiran ini memaksa BEI untuk memanggil Samuel Sekuritas guna meminta klarifikasi terkait riset tersebut. Irvan Susandy, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan panggilan dan berencana mendiskusikan temuan ini bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menilai langkah selanjutnya.

Samuel Sekuritas di Pasar Properti: Kepemilikan BKSL dan Target 200 Ribu

Selain RLCO, Samuel Sekuritas juga tercatat sebagai pemegang saham signifikan di PT Sentul City Tbk (BKSL). Data terbaru per 27 Februari 2026 menunjukkan Samuel Sekuritas Indonesia menguasai 9,24 miliar lembar saham BKSL, atau 5,51% dari total saham. Portofolio BKSL melibatkan beragam pemegang saham, termasuk tokoh politik Megawati Taufiq (1,18%) dan institusi asing Government of Norway (1,16%).

Samuel Sekuritas sempat menargetkan harga BKSL hingga Rp 200 per lembar, menyebut potensi kenaikan 125% berdasarkan valuasi diskon 75% terhadap Revised Net Asset Value (RNAV). Riset tersebut menyoroti pertumbuhan pendapatan BKSL yang hampir dua kali lipat, dari Rp 951 miliar pada 2019 menjadi Rp 1,7 triliun pada 2023, didorong oleh penurunan suku bunga dan kualitas pengembangan properti yang solid.

  • Proyeksi pertumbuhan pendapatan rata‑rata tahunan FY25‑26F: 146%.
  • Proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) FY25‑26F: 1.284%.

Meskipun target ambisius, saham BKSL pada 3 Februari 2026 tercatat turun 0,82% ke Rp 121, menandakan penurunan 15,38% dalam seminggu terakhir. Kapitalisasi pasar BKSL berada di kisaran Rp 20,29 triliun, dengan laba bersih kuartal III 2025 mencapai Rp 71,94 miliar—lonjakan 161,40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Regulator Mengawasi Praktik Riset dan Target Harga

Insiden terkait target Rp 80 ribu RLCO mempertegas peran regulator dalam menjaga integritas pasar modal. BEI, bersama OJK, menegaskan bahwa setiap rekomendasi harga harus didukung oleh analisis fundamental yang kuat dan tidak menimbulkan ekspektasi spekulatif yang berlebihan. Jika ditemukan pelanggaran, otoritas dapat menjatuhkan sanksi administratif atau membatasi aktivitas riset broker.

Samuel Sekuritas sendiri menegaskan bahwa target harga RLCO didasarkan pada asumsi inklusi MSCI dan potensi pertumbuhan laba bersih sebesar 15% pada tahun 2025. Namun, pihak broker juga mengakui adanya risiko utama, antara lain penundaan inklusi MSCI yang dapat menurunkan momentum harga saham.

Dengan kepemilikan signifikan di kedua emiten, Samuel Sekuritas berada dalam posisi yang dapat memengaruhi persepsi pasar. Investor disarankan untuk memperhatikan kualitas riset, transparansi kepemilikan, serta kebijakan regulator sebelum menyesuaikan strategi investasi.

Secara keseluruhan, kombinasi kepemilikan besar, target harga agresif, dan sorotan regulator menandai fase kritis bagi Samuel Sekuritas. Keseimbangan antara optimisme analitis dan kewaspadaan investor menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan saham RLCO dan BKSL ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *