PSPK – 10 Maret 2026 | Bad an intelijen Belanda, AIVD dan MIVD, mengeluarkan peringatan pada Senin mengenai kampanye siber yang digerakkan oleh kelompok peretas yang didukung Rusia. Mereka berhasil menyusup ke akun Signal dan WhatsApp yang dipakai oleh pejabat pemerintah, personel militer, serta jurnalis, sehingga berpotensi membuka akses ke data sensitif.
Para penyerang memulai percakapan seolah‑olah merupakan chatbot resmi Dukungan Signal. Dengan taktik sosial engineering, mereka meminta korban mengirimkan kode verifikasi enam digit serta PIN keamanan. Setelah kode didapat, peretas dapat mengendalikan akun, membaca pesan pribadi, dan mengakses grup percakapan.
Metode lain yang dilaporkan melibatkan fungsi “perangkat yang terhubung” pada Signal. Jika nomor kontak muncul dua kali atau ditandai sebagai “akun yang dihapus”, hal itu dapat menandakan bahwa akun sudah diretas.
Reaksi Platform
WhatsApp menegaskan bahwa kode verifikasi tidak boleh dibagikan kepada siapa pun dan sedang mengembangkan mekanisme tambahan untuk melindungi pengguna dari serangan semacam ini. Pihak Signal belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar.
Langkah Perlindungan yang Disarankan
- Jangan pernah membagikan kode verifikasi atau PIN keamanan kepada pihak yang tidak dikenal.
- Periksa secara rutin daftar perangkat yang terhubung pada aplikasi dan hapus yang tidak dikenali.
- Gunakan autentikasi dua faktor bila tersedia.
- Hindari membicarakan informasi rahasia melalui aplikasi pesan, meski memiliki enkripsi ujung‑ke‑ujung.
- Jika menerima pesan mencurigakan yang mengaku sebagai dukungan resmi, tutup percakapan dan hubungi layanan resmi melalui saluran terverifikasi.
Direktur MIVD, Laksamana Madya Peter Reesink, menekankan bahwa meskipun aplikasi tersebut menawarkan enkripsi, mereka tidak seharusnya dijadikan saluran utama untuk menyampaikan data rahasia, konfidensial, atau sensitif. Otoritas Belanda telah mengirimkan peringatan siber kepada lembaga pemerintah dan menyediakan bantuan teknis untuk mengatasi ancaman ini.
Kasus ini menambah daftar serangan siber yang menargetkan infrastruktur komunikasi kritis di Eropa, memperlihatkan bagaimana taktik rekayasa sosial dapat menembus lapisan keamanan teknologi paling canggih.












