PSPK – 19 Maret 2026 | Ubud, Bali – Malam pengerupukan (Ogoh-Ogoh) pada 18 Maret 2026 memikat ribuan wisatawan domestik dan mancanegara, menjadikan kawasan budaya ini pusat perhatian sekaligus tantangan logistik. Di perempatan Pasar Seni Ubud dan Puri Agung, kerumunan penonton mulai memadati area sejak pukul 17.00 WIB, jauh sebelum ogoh-ogoh resmi berangkat pada pukul 18.30 WIB. Kepadatan ini menyebabkan beberapa ogoh-ogoh anak terjebak dalam alur kerumunan, namun intervensi turis asal Belanda yang naik ke panggung dan meminta jalan terbuka membantu mengatasi kebuntuan.
Keramaian di Ubud dan Upaya Penertiban
Ketua Pecalang Desa Adat Ubud, Cok Gede Putra Darmayuda, menjelaskan bahwa ruang perempatan terbatas, sehingga penonton yang melimpah mengurangi lebar jalur arak-arakan. Polisi, TNI, serta pecalang berkoordinasi menjaga keamanan dan membuka jalur bagi pengarak ogoh-ogoh dewasa maupun anak. Darmayuda menegaskan suasana tetap harmonis meski ramai, menyoroti pentingnya keseimbangan antara hiburan dan ketertiban.
Berawa: Suasana Khidmat di Pantai
Di desa Tibubeneng, Badung, jalan Pantai Berawa menjadi arena lain yang dipenuhi warga banjar, pecalang, dan gamelan. Para pengunjung asing, seperti William dari Australia, memberikan pujian atas keindahan seni tradisional yang dipertunjukkan. Pengarakan berlanjut hingga larut malam, menampilkan ogoh-ogoh dalam balutan pakaian adat Bali, menambah citra Bali sebagai destinasi budaya yang hidup.
Pengamanan Besar-Besaran di Denpasar
Menanggapi potensi kerumunan yang lebih luas, Polda Bali mengerahkan 965 personel untuk mengamankan pawai ogoh-ogoh di Denpasar. Personel diposisikan di enam titik strategis, termasuk Simpang Catur Muka dan Simpang Pasar Sanglah. Komandan Operasi Polda, Komisaris Besar Polisi Soelistijono, menekankan pendekatan humanis dalam pengamanan, mengingat acara ini bersamaan dengan momentum Idul Fitri dan Nyepi.
Parade Nasional: Dari Bali hingga Jawa Timur
Ribuan warga dan wisatawan menyaksikan parade ogog-ogoh di berbagai provinsi, mulai dari titik nol kilometer Denpasar hingga desa Balun di Lamongan, Jawa Timur. Di setiap lokasi, ogoh-ogoh yang melambangkan pengusiran Bhuta Kala diarak dengan alunan gamelan Baleganjur, kemudian dibakar sebagai simbol pemusnahan hawa nafsu. Di Malang, lima karakter ogoh-ogoh menampilkan tema perlawanan terhadap sifat jahat manusia.
Selebriti Bergabung dalam Pawai
Beberapa artis Indonesia, termasuk Westny DJ, Indah Kalalo, Petra Sihombing, Maudy Koesnaedi, Sheryl Sheinafia, dan Turah Parthayana, turut menambah sorotan media dengan berbagi momen di media sosial. Antonio Blanco Jr. bahkan ikut mengarak ogoh-ogoh bersama pemuda di Panestanan Kelod, Ubud, sementara Irzan Faiq menyaksikan pawai di Canggu. Kehadiran selebriti menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung yang tak dapat hadir secara langsung.
Makna Budaya dan Dampak Pariwisata
Ogoh-ogoh bukan sekadar pertunjukan visual; ia menyiratkan upaya pembersihan diri dan alam dari energi negatif. Tradisi ini memberikan nilai edukatif sekaligus ekonomi bagi Bali, dengan peningkatan kunjungan turis yang berdampak pada sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi. Pemerintah daerah mencatat lonjakan pemesanan akomodasi di Ubud dan kawasan pantai pada malam sebelum Nyepi.
Secara keseluruhan, malam pengerupukan 2026 berhasil menampilkan sinergi antara pelestarian budaya, keamanan publik, dan promosi pariwisata. Meskipun tantangan keramaian muncul, koordinasi antar aparat keamanan, pecalang, serta partisipasi aktif masyarakat dan turis berhasil menjaga kelancaran acara. Dengan dukungan artis dan media, ogoh-ogoh Bali semakin dikenal sebagai magnet wisata internasional yang menggabungkan nilai spiritual dan hiburan.












