PSPK – 20 Maret 2026 | Tradisi membeli pakaian baru untuk menyambut Idulfitri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran selama beberapa dekade. Namun, survei terbaru yang dilakukan oleh Populix pada Maret 2026 mengungkap perubahan signifikan dalam pola pikir generasi Z dan milenial. Sekitar tiga puluh persen responden dari kedua kelompok usia menyatakan bahwa mereka tidak lagi mengutamakan pembelian baju baru untuk Lebaran, melainkan lebih memperhatikan kelayakan pakaian serta kondisi keuangan pribadi.
Perubahan pola belanja di kalangan generasi muda
Generasi Z (usia 18-24) dan milenial (usia 25-40) menunjukkan kecenderungan baru dalam mengelola anggaran Lebaran. Dari total 1.000 responden yang disurvei, 51 persen berusia gen Z dan 49 persen milenial. Hasilnya menunjukkan bahwa 30 persen dari mereka menolak anggapan bahwa baju Lebaran harus selalu baru. Mereka menekankan bahwa pakaian yang layak pakai dan cocok dengan acara sudah cukup, asalkan tidak mengganggu stabilitas keuangan.
Data survei Populix: angka yang berbicara
- 30% responden (gen Z & milenial) tidak mengutamakan baju baru.
- 26% menyatakan akan membeli baju baru hanya jika kondisi keuangan baik.
- 2% benar‑benar tidak membeli baju sama sekali.
Mayoritas masih akan membeli pakaian, namun dengan anggaran yang lebih terkontrol. Hal ini menandakan pergeseran nilai dari konsumsi berlebihan menuju pendekatan yang lebih pragmatis.
Preferensi baju sarimbit menjadi sorotan
Selain pertimbangan finansial, faktor kebersamaan juga memengaruhi pilihan pakaian. Sebanyak 43 persen responden mengaku bahwa keluarga besar mereka akan mengenakan baju serasi (sarimbit) pada Lebaran 2026. Simbol kebersamaan menjadi alasan utama bagi 68 persen yang memilih sarimbit, sementara 24 persen lebih memilih kebebasan berbusana masing‑masing tanpa seragam keluarga.
Anggaran dan rentang harga yang dipilih
Survei mengidentifikasi tiga rentang harga utama yang menjadi fokus pembelian:
| Rentang Harga | Persentase Responden |
|---|---|
| Rp300.000 – Rp500.000 | 32% |
| Kurang dari Rp300.000 | 25% |
| Rp500.000 – Rp700.000 | 14% |
| Di atas Rp1,5 juta | 6% |
Data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas generasi muda tetap mengincar pakaian dengan harga menengah, menghindari produk premium yang mahal. Hanya sebagian kecil yang bersedia mengeluarkan lebih dari satu setengah juta rupiah untuk satu set pakaian Lebaran.
Implikasi bagi industri fashion
Tren hemat ini menantang brand fashion untuk menyesuaikan strategi pemasaran. Koleksi “Sarimbit” yang menonjolkan keseragaman keluarga menjadi peluang, sementara lini produk premium harus menyesuaikan nilai tambah yang lebih kuat, misalnya melalui keberlanjutan atau desain eksklusif yang dapat dibenarkan secara finansial. Selain itu, merek yang menawarkan fleksibilitas ukuran, kualitas bahan, dan harga terjangkau diprediksi akan meraih pangsa pasar lebih besar.
Secara keseluruhan, Lebaran 2026 mencerminkan perubahan nilai di kalangan generasi Z dan milenial. Kebiasaan membeli baju baru tidak lagi menjadi keharusan mutlak; mereka lebih menekankan pada kelayakan pakaian, kebersamaan keluarga, dan kontrol keuangan. Industri fashion perlu merespon dengan produk yang relevan, terjangkau, dan mengusung nilai kebersamaan tanpa mengorbankan kualitas.












