PSPK – 29 Maret 2026 | Produsen mobil listrik terkemuka asal Tiongkok, BYD, mencatat penurunan laba bersih sebesar 19 persen menjadi 32,6 miliar yuan (sekitar US$4,72 miliar) pada tahun 2025. Penurunan ini merupakan kali pertama dalam empat tahun terakhir dan jauh melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan rata-rata 12,1 persen.
Penurunan laba dipicu oleh penurunan penjualan di pasar domestik yang semakin kompetitif. Persaingan sengit dengan produsen lain seperti Leapmotor dan Geely, serta akhir kebijakan pembebasan pajak untuk kendaraan energi baru, membuat margin keuntungan BYD tertekan.
Berikut rangkuman kinerja keuangan utama BYD pada tahun 2025:
| Item | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|
| Laba bersih | 32,6 miliar yuan | -19% |
| Pendapatan | 3,5% naik | Terendah dalam enam tahun |
| Margin laba kotor | 20,5% | -1,8 poin persentase |
| Karyawan | 869.622 orang | -10,2% |
| Laba kuartal tiga | 9,3 miliar yuan | -38,2% |
Segmen mobil dengan harga di bawah 150.000 yuan masih menyumbang lebih dari 61 persen dari total penjualan domestik BYD pada November, menandakan ketergantungan besar pada kendaraan berharga terjangkau. Namun, revisi subsidi pemerintah yang lebih menguntungkan model dengan harga lebih tinggi menambah tekanan pada segmen ini.
Untuk mengatasi penurunan penjualan, BYD meluncurkan 11 model baru yang dilengkapi teknologi pengisian cepat, serta memperkuat jaringan stasiun pengisian daya. Meski demikian, analis memperingatkan bahwa penawaran produk premium mungkin belum cukup menarik konsumen domestik yang masih mencari opsi terjangkau.
Di pasar internasional, BYD mencatat pertumbuhan pendapatan kendaraan dan produk terkait sebesar 5 persen, didorong oleh ekspansi penjualan di luar negeri yang menawarkan profitabilitas lebih baik dibandingkan pasar domestik.
Selain tantangan penjualan, BYD juga menghadapi tekanan likuiditas. Modal kerja bersih berubah menjadi defisit 97 miliar yuan, dibandingkan dengan defisit 122,7 miliar yuan pada akhir Juni tahun sebelumnya, menandakan perbaikan namun tetap berada di zona negatif.
Para analis menilai bahwa persaingan dalam industri kendaraan energi baru telah memasuki fase eliminasi yang keras. BYD berencana fokus pada peningkatan teknologi, ekspansi global, dan lokalisasi produksi untuk mempertahankan daya saing di tengah tekanan harga.












