PSPK – 05 Maret 2026 | Pada hari Kamis, harga minyak dunia kembali menguat dengan lonjakan lebih dari 3 persen. Brent naik $2,65 menjadi $83,99 per barel (3,26%) dan West Texas Intermediate (WTI) naik $2,76 menjadi $77,42 per barel (3,70%). Kenaikan ini menandai sesi kelima berturut‑turut yang mengalami peningkatan.
Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran. Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel dan menargetkan kapal tanker di Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat menurunkan sebuah kapal selam yang menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka. NATO juga berhasil menembak jatuh rudal balistik Iran yang diarahkan ke Turki.
Berikut faktor utama yang memperburuk persepsi risiko pasokan:
- Gangguan lalu lintas laut di Selat Hormuz, jalur utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, menyebabkan ratusan kapal tanker terpaksa berlabuh di perairan terbuka.
- Iraq, produsen minyak OPEC terbesar kedua, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dan jalur ekspor.
- Qatar mengumumkan force majeure pada ekspor gas cair (LNG), menunda pemulihan produksi selama minimal satu bulan.
- Pemerintah China menunda penandatanganan kontrak ekspor bahan bakar, menunggu kepastian pasokan di tengah konflik.
Analisis pasar menunjukkan bahwa penyelesaian cepat konflik tampak tidak realistis, sehingga para pedagang minyak memproyeksikan tren bullish ke depan. Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya 200 kapal, termasuk tanker minyak, LNG, dan kargo, tetap berada di luar Selat Hormuz, menambah tekanan pada rantai pasokan global.
Ketidakpastian ini tidak hanya memengaruhi harga komoditas, tetapi juga menambah beban inflasi di banyak negara yang bergantung pada impor energi. Pemerintah dan perusahaan energi diperkirakan akan terus memantau perkembangan geopolitik sambil mencari alternatif logistik untuk mengurangi ketergantungan pada jalur yang rentan.












