PSPK – 01 Maret 2026 | Pasar energi dunia kembali berada di ujung tanduk menyusul ketegangan geopolitik yang memuncak di Teluk Persia. Serangan udara bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah Brent hingga hampir US$20 per barel pada perdagangan 2 Maret, menimbulkan kekhawatiran inflasi di negara-negara impor energi seperti Singapura dan Thailand.
Gejolak di Selat Hormuz Memicu Ketidakpastian Pasokan
Selat Hormuz, jalur laut strategis yang mengalirkan sekitar 15 juta barel minyak dan 290 juta meter kubik LNG setiap harinya, menjadi titik fokus. Menurut Jorge Leon dari Rystad Energy, penutupan atau penurunan keamanan di selat tersebut dapat mengurangi pasokan harian sebesar 8‑10 juta barel, memaksa pasar menyesuaikan harga secara signifikan. Bahkan tanpa penutupan fisik, persepsi risiko yang tinggi telah membuat perusahaan asuransi menaikkan premi, sehingga kapal-kapal menghindari rute tersebut.
Dampak Langsung pada Konsumen Singapura
Singapura, yang mengandalkan lebih dari 70% listriknya dari gas alam, menghadapi potensi kenaikan harga bensin dan listrik. Brent tercatat US$72,87 pada 27 Februari, naik 2,8 % dalam seminggu. Jika konflik berlanjut lebih dari satu hingga dua minggu, kenaikan pada pompa bensin serta tarif listrik diprediksi akan menambah tekanan inflasi, yang diperkirakan tetap berada pada kisaran 1‑2 % sepanjang 2026 menurut Monetary Authority of Singapore.
Thailand Siap Menghadapi Lonjakan Harga Bensin
Di Bangkok, Kementerian Energi mengantisipasi “risk point” pada 4 Maret 2026, ketika harga ritel domestik kemungkinan mengikuti pergerakan pasar global. Diesel diproyeksikan mendekati US$100 per barel, sementara Brent berada di kisaran US$92. Pemerintah tengah memeriksa cadangan strategis untuk menutup kebutuhan 61 hari ke depan dan memantau pergerakan tanker melalui Selat Hormuz serta Laut Merah.
Negosiasi Amerika‑Iran: Penahan atau Pemicu Harga?
Negosiasi tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa memberikan sinyal campuran. Pada 27 Februari, Brent naik 2,45 % menjadi US$72,48 setelah laporan ketegangan, namun kemudian mereda ketika mediator Oman mengumumkan kemajuan. Analis menilai bahwa setiap penundaan atau kegagalan kesepakatan dapat menambah premi risiko geopolitik sebesar US$8‑10 per barel, menambah beban pada konsumen akhir.
Respon OPEC+ dan Produsen Lain
Kelompok produsen OPEC+ diperkirakan akan menambah produksi sebesar 137.000 barel per hari pada April, sebagai upaya menyeimbangkan pasar. Selain itu, Uni Emirat Arab berencana meningkatkan ekspor Murban, sementara Arab Saudi mempertimbangkan kenaikan harga ke Asia untuk mengisi kekosongan pasokan Rusia di wilayah tersebut.
Analisis Dampak Jangka Panjang
Jika konflik berlanjut, selain harga bahan bakar yang naik, sektor industri lain seperti semikonduktor dan barang manufaktur dapat merasakan tekanan biaya. Di Singapura, kenaikan energi berpotensi memperburuk risiko inflasi yang sudah diperingatkan oleh ekonom Maybank. Di Thailand, beban pada konsumen dapat memicu protes sosial bila harga bahan bakar dan listrik naik secara tajam.
Secara keseluruhan, pasar minyak berada dalam kondisi rapuh. Ketidakpastian di Selat Hormuz, ketegangan antara AS‑Iran, serta respons kebijakan OPEC+ menjadi faktor utama yang menentukan arah harga dalam minggu-minggu mendatang. Pemerintah negara pengimpor energi perlu memperkuat cadangan strategis dan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi paparan terhadap fluktuasi geopolitik.












