PSPK – 30 Maret 2026 | Pasar logam mulia Indonesia mengalami pergerakan signifikan pada hari Jumat, 25 Maret 2026. Harga emas perhiasan resmi turun menjadi Rp2.185.000 per gram, sementara harga buyback (pembelian kembali) berada di level Rp2.200.000 per gram. Penurunan ini menandai perubahan arah setelah seminggu sebelumnya harga sempat menguat, terutama pada 29 Maret yang tercatat Rp2.263.000 per gram.
Pergerakan Harga Terbaru
Data resmi dari Raja Emas dan Laku Emas menunjukkan bahwa harga spot emas perhiasan pada 25 Maret berada di bawah level dukungan jangka pendek. Penurunan sebesar Rp78.000 per gram dibandingkan dengan harga pada 29 Maret menandakan adanya tekanan jual yang cukup kuat, dipicu oleh beberapa faktor eksternal seperti pergerakan dolar AS, harga minyak, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Faktor Penyebab Penurunan
- Dolar AS menguat – Nilai tukar dolar yang naik membuat harga emas dalam mata uang lokal cenderung turun karena emas diperdagangkan secara global dalam dolar.
- Harga minyak naik – Kenaikan harga West Texas Intermediate (WTI) ke atas USD 98 per barel menekan sentimen risiko, membuat investor beralih ke aset lain.
- Ketegangan geopolitik – Konflik yang berkelanjutan di Selat Hormuz menimbulkan ketidakpastian suplai emas, namun pada saat yang sama menurunkan permintaan spekulatif di pasar domestik.
- Koreksi pasar tiga minggu – Setelah tiga minggu kenaikan berturut‑turut, pasar mulai melakukan penyesuaian teknikal, menguji level support di sekitar Rp2,2 juta.
Data Harga Emas Antam Selama Seminggu Terakhir
| Hari | Harga (Rp/gram) |
|---|---|
| Senin, 23 Maret | 2.843.000 |
| Selasa, 24 Maret | 2.843.000 |
| Rabu, 25 Maret | 2.850.000 |
| Kamis, 26 Maret | 2.850.000 |
| Jumat, 27 Maret | 2.810.000 |
| Sabtu, 28 Maret | 2.837.000 |
| Minggu, 29 Maret | 2.263.000 (perhiasan) |
Catatan: Harga pada 29 Maret di atas merupakan harga emas perhiasan di pasar retail, berbeda dengan harga Antam yang masih berada di kisaran Rp2,8 juta per gram. Perbedaan ini mencerminkan variasi margin antara pedagang ritel dan produsen resmi.
Analisis Pakar
Michael Brown, analis senior di Pepperstone, menyatakan bahwa penurunan ini dapat menjadi sinyal bahwa pasar sudah menemukan level terendah yang stabil. “Jika tekanan jual tidak berlanjut, emas dapat kembali menguat sebagai aset safe haven,” ujar Brown. Namun, ia menekankan risiko tambahan bila konflik di wilayah Timur Tengah semakin intens, yang dapat memicu penurunan pasokan fisik dan memengaruhi harga spot secara tiba‑tiba.
Di sisi lain, analis di Kitco mencatat bahwa harga emas dunia berhasil menembus level USD 4.525 per ounce pada akhir pekan, naik lebih dari 3 % dalam satu hari. Meskipun demikian, volatilitas masih tinggi karena pasar masih menyesuaikan diri dengan data ekonomi AS yang menunjukkan ketahanan inflasi.
Secara keseluruhan, penurunan harga emas perhiasan pada 25 Maret mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global dan kondisi domestik. Pedagang perhiasan diharapkan akan menyesuaikan strategi penjualan, sementara konsumen yang menunggu harga lebih murah mungkin menemukan peluang beli yang menguntungkan dalam beberapa hari ke depan.
Investor yang mempertimbangkan emas sebagai instrumen diversifikasi harus memperhatikan korelasi antara harga spot internasional, nilai tukar rupiah, serta kebijakan moneter Bank Indonesia. Memantau indikator‑indikator ini akan membantu mengantisipasi pergerakan selanjutnya, baik kenaikan maupun penurunan.












