PSPK – 10 Maret 2026 | Balikpapan, 7 Maret 2026 – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap keberadaan sebuah laboratorium gelap (clandestine laboratory) di sebuah vila mewah di Gianyar, Bali, yang dikelola oleh dua warga negara Rusia. Kedua tersangka, seorang perempuan berinisial NT (29 tahun) dan seorang pria berinisial TS (34 tahun), mengaku pernah menjadi anggota militer Rusia sebelum beralih ke dunia perdagangan narkotika sintetis. Penangkapan mereka menandai salah satu operasi pemberantasan narkoba paling signifikan di wilayah kepulauan selama tahun ini.
Jejak Awal dan Penyamaran Identitas
Menurut keterangan Plt. Deputi Pemberantasan BNN RI, Brigjen Pol. Roy Hardi Siahaan, NT dan TS pertama kali tiba di Indonesia pada Januari 2026. Mereka berhasil mengelak dari radar pemantauan karena secara rutin berpindah-pindah vila dan menggunakan identitas palsu. NT diketahui memiliki tiga paspor Rusia dengan nama berbeda, termasuk identitas yang dipinjam dari seorang warga Rusia bernama KS yang sebelumnya menyewa vila di Uluwatu. Setelah KS meninggalkan Indonesia, NT mengambil alih vila tersebut dengan identitas KS, sementara KS masih tercatat dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Penggerebekan di Vila The Lavana De’Bale Marcapada
Operasi gabungan BNN, kepolisian, dan aparat bea cukai dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026, pukul 23.45 WITA. Tim menggeledah vila yang dikenal dengan nama The Lavana De’Bale Marcapada, menemukan sejumlah barang bukti penting, termasuk narkotika mephedrone dalam bentuk padatan dan cairan, serta prekursor kimia yang diimpor secara ilegal dari Cina.
- 644 gram mephedrone padatan
- 7.250 mililiter mephedrone cairan
- Total berat bruto: 7.894 gram
- 2.600 gram prekursor padatan (methylamine, hydrobromic, dll.)
- 219.780 mililiter prekursor cairan
Selain zat narkotika, aparat menemukan peralatan lengkap untuk produksi laboratorium skala kecil: timbangan digital, fruit dryer, masker respirator, kertas saring, labu erlenmeyer, panci, jarum suntik, jerigen, dan magnetic stirrer.
Rantai Pasokan dan Harga Pasar
Roy Hardi menegaskan bahwa prekursor kimia tersebut masuk ke Indonesia melalui paket-paket mencurigakan yang dikirim dari Cina pada bulan Januari, menggunakan data palsu untuk menghindari deteksi. “Methylamine datang dari Cina, begitu pula hydrobromic,” ujarnya dalam konferensi pers.
Harga pasar mephedrone diperkirakan mencapai Rp6 juta per gram. Zat ini memiliki empat cara konsumsi utama: dibakar, dihirup, disuntik, atau dalam bentuk pil, tergantung pada racikan yang diproduksi. Menurut intelijen BNN, terdapat komunitas pengguna narkotika sintetis berbahasa Rusia di Bali, namun jaringan pemasaran masih dalam tahap pengembangan karena kurangnya informasi dari para tersangka.
Latihan Militer dan Keahlian Produksi
Dalam sesi interogasi, NT mengaku pernah menjalani pelatihan militer di Rusia, termasuk penggunaan peralatan kimia dasar. “Kami memiliki pengetahuan teknis yang memadai untuk meracik mephedrone secara efisien,” kata NT. Pernyataan ini menambah kompleksitas kasus, mengingat latar belakang militer dapat memberikan akses ke pengetahuan kimia yang lebih mendalam dan disiplin operasional yang tinggi.
Penangkapan ini juga mengungkap modus operandi para pelaku yang memanfaatkan vila-vila mewah sebagai tempat produksi tersembunyi, sekaligus menutupi jejak dengan identitas palsu. Pihak berwenang menilai bahwa jaringan ini memiliki potensi untuk memperluas distribusi narkotika sintetis tidak hanya di Bali, tetapi juga ke wilayah lain di Indonesia.
Langkah Selanjutnya
BNN dan kepolisian kini melanjutkan penyelidikan untuk mengidentifikasi jaringan pasokan prekursor serta potensi mitra lokal yang terlibat. Kedua tersangka telah diamankan dan kini berada dalam proses penyidikan lanjutan. Sementara itu, BNN menegaskan komitmennya untuk meningkatkan pengawasan pada pengiriman barang kimia berbahaya dan memperkuat kerja sama internasional dalam memerangi perdagangan narkotika sintetis.
Publik diimbau untuk melaporkan aktivitas mencurigakan, terutama pengiriman paket kimia dari luar negeri, melalui jalur resmi BNN atau Satlantas. Dengan sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat, diharapkan jaringan narkotika sintetis seperti ini dapat terdeteksi lebih dini sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
Informasi lebih lengkap dapat diakses melalui tirto.id.












