PSPK – 08 Maret 2026 | Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten, menjadi sorotan nasional setelah pemerintah desa membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) senilai Rp250.000 kepada setiap warganya menjelang Lebaran. Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga menyoroti peran BUMDes Umbul Pelem Waterpark sebagai sumber dana utama.
Latar Belakang Pembagian THR
Pada Kamis, 5 Maret 2026, lebih dari 2.300 penduduk desa Wunut berkumpul di balai desa untuk menerima THR. Kepala Desa Iwan Sulistyo Setiawan menjelaskan bahwa total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp585.250.000, yang seluruhnya bersumber dari pendapatan BUMDes Umbul Pelem. “Kami menyisihkan sebagian laba BUMDes untuk membantu warga menjelang Lebaran,” ujar Iwan.
Mekanisme Pembagian
Syarat penerima cukup menunjukkan fotokopi Kartu Keluarga (KK). Setiap individu, termasuk anak-anak dan bayi baru lahir, berhak mendapatkan Rp250.000. Karena satu KK dapat terdiri dari beberapa anggota, total bantuan per rumah tangga dapat melampaui Rp1 juta. Contoh nyata diungkapkan oleh warga Suwarti yang mewakili keluarga beranggotakan empat orang, sehingga ia membawa pulang Rp1 juta.
- Jumlah penerima: 2.341 orang
- Nominal per jiwa: Rp250.000
- Total anggaran: Rp585.250.000
Umbul Pelem: Sumber Kekayaan Desa
Umbul Pelem, sebuah objek wisata air yang dikelola BUMDes sejak 2018, telah menjadi mesin penggerak ekonomi desa. Data kunjungan menunjukkan pertumbuhan signifikan: 117.713 pengunjung pada 2018, 304.501 pada 2019, 156.060 pada 2020 (penurunan akibat COVID-19), 352.491 pada 2021, dan 508.008 pada 2022. Dengan tiket masuk Rp8.000–Rp10.000, omzet tahunan mencapai miliaran rupiah, yang kemudian dialokasikan untuk program sosial seperti THR.
Model Digitalisasi THR di Era QRIS
Sementara Wunut mengandalkan uang tunai, tren nasional kini bergerak ke arah digitalisasi pembayaran THR. Metode transfer via QRIS dan e‑wallet (OVO, GoPay, DANA, ShopeePay) memungkinkan distribusi yang lebih cepat dan aman, mengurangi kebutuhan antrean dan uang fisik. Meskipun belum diimplementasikan di Wunut, keberhasilan program tunai ini membuka peluang bagi desa lain untuk mengadopsi solusi digital, mengingat infrastruktur pembayaran telah merata di banyak wilayah Jawa Tengah.
Dampak Sosial‑Ekonomi
Warga mengaku bantuan THR sangat membantu memenuhi kebutuhan mendesak, seperti pembelian pakaian baru untuk Lebaran. Selain meningkatkan kepuasan hidup, program ini memperkuat rasa kebersamaan dan kepercayaan terhadap pemerintah desa. Wiyoto, seorang tokoh masyarakat, menambahkan, “Semoga rejeki dari Umbul Pelem terus lancar, semua sehat, dan program ini dapat berkelanjutan.”
Implikasi Nasional dan Perbandingan
Kisah Wunut muncul bersamaan dengan viral video Bupati Nias Utara Amizaro Waruwu yang sujud di hadapan Menteri Desa meminta perhatian bagi 30 kabupaten tertinggal (3T). Kedua peristiwa menyoroti disparitas antara daerah yang berhasil memanfaatkan potensi lokal (seperti wisata alam) dan wilayah yang masih berjuang mengatasi kemiskinan. Sementara Nias Utara masih menuntut bantuan pusat, Wunut membuktikan bahwa kemandirian ekonomi berbasis BUMDes dapat menghasilkan kebijakan sosial yang signifikan.
Keberhasilan Wunut menjadi contoh bagi pemerintah desa lain untuk mengoptimalkan aset lokal, memperkuat BUMDes, dan mempertimbangkan transisi ke platform digital dalam distribusi bantuan. Dengan pendekatan yang tepat, desa-desa di Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal dan meningkatkan kesejahteraan warganya secara berkelanjutan.












