PSPK – 13 Maret 2026 | Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik menyikapi ketegangan di Timur Tengah. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan langkah alternatif untuk menutupi potensi kekurangan pasokan BBM impor yang biasanya datang dari wilayah tersebut.
Data impor minyak mentah selama periode April 2025 hingga Maret 2026 menunjukkan bahwa 81 % impor berasal dari negara yang tidak terdampak konflik. Rincian impor dapat dilihat pada tabel berikut:
| Negara | Volume (juta barel) | Persentase |
|---|---|---|
| Nigeria | 34,07 | 25 % |
| Angola | 28,50 | 21 % |
| Negara lain | 47,40 | 35 % |
| Arab Saudi | 28,50 | 19 % |
Dengan mayoritas impor berasal dari sumber yang stabil, pasokan BBM di Indonesia tetap terjaga. Fathul menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz tidak menimbulkan ancaman signifikan bagi keamanan energi nasional.
Ia juga meluruskan persepsi publik bahwa cadangan BBM hanya cukup untuk 20 hari ke depan. Angka tersebut mencerminkan keterbatasan kapasitas penyimpanan, bukan kekurangan bahan bakar. Kapasitas total penyimpanan BBM nasional saat ini mencapai 9,16 juta kiloliter, di mana Pertamina menguasai 6,10 juta kiloliter (67 %) dan perusahaan non‑Pertamina mengisi sisanya sebesar 3,06 juta kiloliter (33 %).
Ketersediaan operasional BBM diperkirakan aman hingga melewati periode Ramadan dan Idul Fitri 2026. Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perusahaan energi, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan, memperkuat ketahanan energi, dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal di tengah dinamika global yang terus berubah.












