PSPK – 01 Maret 2026 | Singapura akan menambah fasilitas latihan militer canggih dengan pembangunan Multi-Mission Range Complex 2 (MMRC 2) di Bedok Camp, yang dijadwalkan selesai pada tahun 2031. Proyek ini diumumkan oleh Menteri Pertahanan Chan Chun Sing pada sidang Parlemen 27 Februari 2026, menandai langkah penting dalam menyiapkan Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) menghadapi ancaman keamanan yang semakin kompleks.
Fasilitas dan Teknologi Terkini
MMRC 2 dirancang sebagai kompleks indoor live‑firing berukuran kompak namun kaya fitur. Terdapat enam lintasan tembak 100‑meter, di mana dua di antaranya memiliki tinggi ganda untuk latihan menembak pada target yang berada di ketinggian, termasuk drone. Lintasan ini dilengkapi Video Targetry System (VTS) yang menampilkan skenario pertempuran dinamis lengkap dengan lampu kilat, efek suara, dan properti seperti puing‑puing. Sistem ini tidak hanya menilai apakah tembakan mengenai target, tetapi juga menganalisis pola tembakan, kontrol pemicu, dan memberikan umpan balik personal bagi tiap prajurit.
Dengan teknologi VTS, prajurit dapat berlatih melawan gambar bergerak yang meniru situasi nyata, seperti serangan teroris di bandara atau operasi kontra‑drone. Senior Lieutenant Colonel Jonathan Liu, kepala Training Development Branch, menekankan bahwa kemampuan menembak merupakan keterampilan yang mudah memudar tanpa latihan rutin, sehingga umpan balik detail menjadi krusial.
Efisiensi Waktu dan Aksesibilitas
Berbeda dengan lintasan luar ruangan yang memerlukan satu hari penuh untuk latihan unit, MMRC 2 memungkinkan prajurit menyelesaikan persyaratan tembak dalam kurang dari dua jam. Sistem pemesanan melalui aplikasi OneNS memudahkan prajurit menyiapkan slot latihan secara mandiri, mirip dengan pemesanan untuk tes kebugaran (IPPT). Diperkirakan fasilitas ini akan melayani sekitar 120.000 personel per tahun, termasuk anggota SAF Volunteer Corps dan siswa National Cadet Corps.
Lokasinya yang strategis—hanya dua menit berjalan kaki dari stasiun MRT Sungei Bedok yang akan beroperasi pada paruh kedua 2026—menjamin akses publik transportasi massal, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Pengoptimalan Lahan dan Keamanan Lingkungan
Peluncuran MMRC 2 akan mengakibatkan penutupan enam lintasan tembak luar ruangan yang kini berada di kawasan SAFTI Military Institute, Jurong, dan Nee Soon. Lahan yang dibebaskan akan dialokasikan untuk kebutuhan latihan lain, mengingat keterbatasan ruang di kota yang padat. Sementara itu, enam lintasan luar ruangan lainnya—dua di Pulau Tekong, dua di Nee Soon, dan dua di Poyan—akan tetap beroperasi untuk melatih prajurit dalam kondisi terbuka, yang masih esensial bagi dasar-dasar militer.
Aspek keamanan menjadi prioritas utama mengingat kedekatan camp dengan pemukiman dan jaringan transportasi. Bangunan akan memiliki zona “zero danger area” di luar struktur, memastikan peluru yang melenceng tidak membahayakan publik. Selain itu, insulasi suara penuh akan meminimalkan gangguan kebisingan bagi warga sekitar.
Implikasi Lebih Luas bagi Pertahanan Nasional
Pembangunan MMRC 2 mencerminkan perubahan paradigma SAF dalam menanggapi evolusi ancaman, terutama penggunaan drone yang semakin murah, mudah diakses, dan mobil. Dengan fasilitas indoor yang dapat mensimulasikan lingkungan perkotaan dan ketinggian, SAF menyiapkan semua prajurit, bukan hanya unit khusus, untuk respons cepat terhadap ancaman udara tak berawak.
Selain peningkatan kapasitas tembak, Chan Chun Sing juga mengumumkan revisi sistem klasifikasi medis untuk menyesuaikan penempatan prajurit berdasarkan kemampuan, bukan sekadar keterbatasan. Langkah ini sejalan dengan diversifikasi peran dalam militer yang tidak lagi mengandalkan kekuatan fisik semata.
Di sisi lain, jaringan relawan pertahanan (SG Defence Volunteer Network) akan dibentuk tahun ini, menyatukan semua sukarelawan MINDEF, SAF, dan lembaga terkait di bawah satu identitas, memperluas jalur partisipasi sipil dalam keamanan negara.
Sinergi dengan Inisiatif Digital dan Cyber
Pengembangan MMRC 2 berjalan beriringan dengan modernisasi unit cyber. Pusat Pengujian dan Evaluasi Cyber (Cyber Defence Test and Evaluation Centre) akan ditransformasi menjadi Pusat Pengujian dan Eksperimen Cyber, mampu mensimulasikan skenario siber canggih dengan bantuan kecerdasan buatan. Langkah ini memperkuat kesiapan digital SAF, mengingat integrasi sistem militer dengan infrastruktur sipil menambah permukaan serangan potensial.
Secara keseluruhan, MMRC 2 di Bedok menandai transformasi signifikan dalam cara SAF melatih, memanfaatkan lahan, dan menyiapkan prajurit untuk tantangan masa depan. Dengan fasilitas yang lebih realistis, efisien, dan aman, diharapkan kualitas marksmanship serta kesiapan taktis prajurit nasional meningkat secara substansial, sekaligus memberikan kemudahan akses bagi para NSmen yang menyeimbangkan antara tugas militer, pekerjaan, dan keluarga.
Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi inovasi pertahanan lainnya, memastikan Singapura tetap tangguh dalam menghadapi dinamika geopolitik dan teknologi yang terus berubah.












