PSPK – 08 Maret 2026 | Hujan deras yang melanda wilayah Asia Tenggara dan Afrika pada pekan pertama Maret 2026 memicu serangkaian bencana banjir yang menimpa lebih dari tiga wilayah sekaligus. Di Indonesia, banjir setinggi 1,5 meter meluluhlantakkan permukiman di Kelurahan Bencongan, Tangerang, sementara di Bali, desa Banjar, Buleleng, banjir bandang menggerus rumah-rumah dan menelan empat warga. Di luar negeri, ibu kota Kenya, Nairobi, dilanda banjir besar yang menewaskan setidaknya 23 orang. Dampak yang meluas menimbulkan kekhawatiran tentang kesiapan infrastruktur, sistem drainase, serta respons darurat di berbagai negara.
Banjaran Banjir di Bencongan, Tangerang
Pada dini hari Minggu, 8 Maret 2026, banjir setinggi 1,5 meter menyusup ke perumahan RT 03, 05, dan 06 RW 020, Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Hujan deras yang berlangsung sejak Sabtu sore menyebabkan Kali Sabi meluap kembali pada pukul 23.00 WIB hingga dini hari. Air tidak hanya menggenangi jalanan, melainkan merembes masuk ke dalam rumah hingga 30 cm. Warga setempat, Sutrisno, mengaku terpaksa tetap di rumah karena melihat seekor ular di atas mesin cuci, menambah rasa takut dan kebingungan.
Ratusan rumah terendam, beberapa di antaranya mengalami genangan hingga satu meter. Warga di RW lain (031 dan 028) melaporkan kerusakan serupa, sementara petugas pemadam kebakaran dan Tim SAR lokal berupaya membantu evakuasi serta penyaluran bantuan makanan dan sandang. Penanganan darurat masih berlangsung, dengan harapan air surut pada sore hari.
Banjir Bandang di Banjar, Buleleng, Bali
Di pulau Bali, desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, dilanda banjir bandang pada Jumat malam, 6 Maret 2026. Hujan deras sejak pukul 18.15 WITA memicu luapan Sungai Mendaum yang mengalir deras membawa lumpur, kayu, dan puing-puing. Empat warga terseret arus; satu di antaranya, Dewa Ketut Adi Suarjana (55), ditemukan tewas setelah terperangkap di semak bambu. Tiga warga lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Korban lain termasuk Komang Suci (44) beserta dua anaknya, Putu Wini (17) dan Kadek Wahyu (12), yang hilang setelah rumah mereka dihantam oleh arus kuat. Banjir mengakibatkan puluhan rumah rusak parah, dinding barat beberapa rumah roboh, dan jalan desa terputus. Pemerintah desa masih melakukan pendataan kerusakan, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan posko evakuasi dan distribusi bantuan.
Krisis Banjir di Nairobi, Kenya
Sementara itu, di Afrika Timur, Nairobi mengalami banjir besar yang menewaskan minimal 23 orang pada Sabtu, 7 Maret 2026. Hujan deras sejak Jumat, 6 Maret, menyebabkan sungai Nairobi meluap, menenggelamkan jalan utama seperti Mombasa Road, Uhuru Highway, dan Kirinyaga Road. Lalu lintas terhenti, penerbangan ke Bandara Internasional Jomo Kenyatta dibatalkan atau dialihkan ke Mombasa.
Polisi melaporkan sekitar 30 orang berhasil diselamatkan, namun banyak yang masih hilang atau tewas akibat terseret arus atau tersengat listrik. Sekretaris Jenderal Palang Merah Kenya, Ahmed Idris, menyatakan tim penyelamat bekerja tanpa henti meski menghadapi kemacetan dan kondisi jalan yang rusak. Badan Meteorologi Kenya sebelumnya telah memperingatkan risiko banjir berkepanjangan, dan memperkirakan ketinggian air sungai akan terus naik hingga Senin, 9 Maret 2026.
Penyebab dan Tantangan Penanganan
- Curah hujan ekstrem: Semua wilayah terdampak mencatat intensitas hujan di atas rata‑rata musiman, memicu meluapnya sungai dan saluran drainase.
- Drainase tersumbat: Warga Nairobi menuding saluran drainase yang tidak terpelihara, sementara di Tangerang dan Bali, penumpukan sampah serta penebangan vegetasi meningkatkan aliran permukaan.
- Keterbatasan infrastruktur: Dinding penahan air, tanggul, dan sistem peringatan dini belum memadai untuk mengatasi volume air yang tiba‑tiba meningkat.
Respons darurat di masing‑masing daerah menunjukkan koordinasi antara pemadam kebakaran, Tim SAR, polisi, dan lembaga kemanusiaan. Namun, perbedaan tingkat kesiapan menimbulkan kesenjangan dalam penanganan korban dan pemulihan properti.
Langkah Mitigasi ke Depan
Pemerintah daerah dan nasional di ketiga negara diharapkan mempercepat proyek perbaikan drainase, meningkatkan kapasitas tanggul, serta mengembangkan sistem peringatan dini berbasis teknologi satelit. Pendidikan masyarakat tentang bahaya banjir, serta program penanaman kembali vegetasi di daerah aliran sungai, menjadi kunci mengurangi risiko di masa mendatang.
Secara keseluruhan, banjir yang melanda Tangerang, Bali, dan Nairobi menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektoral dalam menghadapi perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi curah hujan ekstrem. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga sosial, dan komunitas lokal sangat diperlukan untuk meminimalkan dampak bencana di masa yang akan datang.












