Project Seru Penuh Kejutan
Berita  

Dua Anak Harimau Bengal di Bandung Zoo Mati Tiba-tiba, Virus Panleukopenia Jadi Penyebab Utama

March 31, 2026 • 0 Views
Dua Anak Harimau Bengal di Bandung Zoo Mati Tiba-tiba, Virus Panleukopenia Jadi Penyebab Utama
Dua Anak Harimau Bengal di Bandung Zoo Mati Tiba-tiba, Virus Panleukopenia Jadi Penyebab Utama

PSPK – 31 Maret 2026 | Bandung, 30 Maret 2026 – Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) kembali menjadi sorotan publik setelah dua anak harimau Bengal, Huru dan Hara, meninggal secara berurutan pada 24 dan 26 Maret. Kedua satwa berusia delapan bulan ini didiagnosa positif terinfeksi virus feline panleukopenia (FPV), penyakit menular yang biasanya menyerang keluarga kucing namun kini terbukti dapat menular ke karnivora besar.

Gejala dan Penanganan Awal

Menurut Agnisa Nur Puspita, Medik Veteriner Ahli Pertama BBKSDA Jawa Barat, pemeriksaan sampel feses menunjukkan keberadaan virus panleukopenia pada Huru dan Hara. Gejala awal yang terlihat meliputi muntah, diare, dan penurunan drastis sel darah putih, yang secara cepat menggerus sistem kekebalan tubuh anak harimau. Begitu gejala terdeteksi, tim medis segera memindahkan kedua anak harimau ke kandang karantina dan memberikan perawatan intensif, namun kondisi mereka terus memburuk.

Penelusuran Penyebab dan Studi Veteriner

Panleukopenia merupakan virus yang sangat menular melalui jalur oral dan nasal, biasanya menyebar lewat urin, muntahan, atau feses yang terkontaminasi. Nur Purba Priambada, Presiden Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Hewan Eksotik Indonesia (Asliqewan), menegaskan bahwa tingkat kematian pada satwa muda yang terinfeksi sangat tinggi. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Veterinary Research menemukan kemiripan genetik antara virus yang terdeteksi pada harimau di Bandung dan virus pada kucing domestik di sekitar fasilitas, mengindikasikan kemungkinan kontaminasi lintas spesies.

Konflik Pengelolaan dan Dampaknya

Kebun Binatang Bandung sejak lama berada dalam keadaan tutup karena perselisihan antara pihak pengelola dan pemerintah kota. Usup Supriyatna, perawat senior satwa, mengungkapkan bahwa Huru dan Hara sudah menunjukkan gejala penyakit sejak usia lima bulan, tepat pada saat konflik pengelolaan memuncak. “Saya masih ingat proses perjodohan induk mereka hingga kelahiran, namun kondisi manajemen yang tidak stabil memperparah situasi,” ujarnya.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang sebelumnya menghindari campur tangan teknis, kini menyatakan akan turun langsung. Ia menyoroti bahwa perebutan kewenangan antar lembaga telah mengorbankan kesejahteraan satwa. “Saya tidak mau ada korban lagi, baik satwa maupun manusia, akibat ego sektoral,” kata Dedi dalam pernyataan di Gedung Sate. Pemerintah provinsi berjanji akan mengirimkan bantuan logistik, termasuk pakan harian, serta menugaskan dokter hewan untuk memeriksa seluruh koleksi satwa.

Respons Wali Kota dan Langkah Selanjutnya

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku terpukul atas kematian Huru dan Hara. Ia menekankan pentingnya perbaikan sistem pengelolaan kebun binatang agar kejadian serupa tidak terulang. Tim BBKSDA berencana melakukan audit menyeluruh terhadap sanitasi kandang, prosedur karantina, dan protokol vaksinasi. Selain itu, akan dibentuk tim gabungan yang melibatkan ahli veteriner, pihak kepolisian, dan perwakilan masyarakat untuk mengawasi operasional kebun binatang.

Harapan untuk Masa Depan

Ucup, seorang pekerja kebun binatang dengan pengalaman lebih dari satu dekade, berharap konflik internal dapat diselesaikan demi kelangsungan hidup satwa. “Kebun binatang bukan hanya tempat hiburan, melainkan pusat konservasi. Kami butuh dukungan nyata agar satwa dapat hidup dengan layak,” ujar Ucup.

Dengan tekanan publik yang semakin kuat, pihak berwenang diharapkan dapat menata kembali tata kelola Kebun Binatang Bandung, meningkatkan standar kesehatan hewan, serta memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang. Kematian Huru dan Hara menjadi peringatan keras bahwa kesehatan satwa tidak dapat dipisahkan dari manajemen yang profesional dan kolaboratif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *