PSPK – 29 Maret 2026 | Dollar Amerika menguat terhadap yen pada Jumat, menembus level 160 yen per dolar untuk pertama kalinya sejak Juli 2024. Kurs terbaru tercatat 160,15 yen per dolar, yang dipandang oleh pelaku pasar sebagai ambang batas potensial bagi otoritas Jepang untuk melakukan intervensi resmi.
Indeks dolar (DXY) juga naik 0,17 persen menjadi 100,4, menandai kenaikan bulanan terkuat dalam hampir setahun. Kenaikan tersebut dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah, yang mendorong investor beralih ke aset berbasis dolar sebagai tempat perlindungan, dibandingkan emas atau obligasi pemerintah tradisional.
Beberapa faktor utama yang menekan yen dan obligasi pemerintah Jepang meliputi:
- Kebijakan fiskal ekspansif yang diusung oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang bertujuan merangsang pertumbuhan ekonomi.
- Upaya Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk secara bertahap menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi, yang menjadi lebih sulit karena tekanan fiskal.
- Ketergantungan Jepang yang tinggi pada impor energi, memperlemah neraca perdagangan.
- Keuangan publik yang rapuh, menambah kekhawatiran pasar.
Sejak dimulainya konflik di Timur Tengah, yen telah kehilangan lebih dari 2 persen terhadap dolar, menjadikannya salah satu mata uang utama dengan performa terburuk dalam sebulan terakhir.
Pihak berwenang di Tokyo telah berulang kali memperingatkan kemungkinan intervensi jika yen melemah secara berlebihan. Intervensi terakhir tercatat pada Juli 2024, ketika yen mencapai sekitar 161 per dolar, level terendah sejak era 1980-an.
Meski belum ada konfirmasi resmi, pasar terus memantau pergerakan yen serta sinyal kebijakan BOJ, yang dapat menentukan arah nilai tukar dalam beberapa minggu ke depan.












