PSPK – 25 Maret 2026 | Bank Sentral Sri Lanka (CBSL) pada Rabu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 7,75 %.
Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan risiko kenaikan biaya energi yang dipicu oleh konflik antara Israel dan Palestina serta potensi keterlibatan Iran, yang dapat menambah tekanan inflasi di negara kepulauan itu.
Gubernur CBSL, P. Nandalal Weerasinghe, menyatakan bahwa cadangan devisa negara kini berada di level sekitar US$7,3 miliar, memberi ruang bagi otoritas moneter untuk menyerap guncangan baik dari sisi inflasi maupun likuiditas. Ia menegaskan tidak ada ancaman signifikan terhadap stabilitas keuangan, namun menambahkan bahwa bila ketidakpastian berlanjut, proyeksi inflasi dapat disesuaikan.
- Target inflasi CBSL tetap 5 % dan diproyeksikan tercapai pada kuartal kedua 2026.
- Harga bahan bakar naik hampir 35 % pada bulan ini, meningkatkan tekanan harga konsumen.
- Cadangan devisa: US$7,3 miliar.
- Program bantuan IMF senilai US$2,9 miliar masih berjalan, dengan tim IMF dijadwalkan tiba di Colombo untuk tinjauan kelima dan keenam.
- Pertumbuhan ekonomi 2023 tercatat 5 %, dan pemerintah menargetkan pertumbuhan 4‑5 % pada 2026.
Sejak Mei lalu, CBSL tidak mengubah suku bunga, menandakan kebijakan yang relatif stabil setelah krisis keuangan 2022 yang dipicu oleh kekurangan dolar. Dukungan dari IMF dan reformasi struktural dianggap membantu pemulihan ekonomi, meskipun risiko eksternal—terutama yang terkait dengan pasar energi global—masih menjadi perhatian utama.
Para analis, termasuk Anjali Hewapathage dari Frontier Research, mencatat bahwa meskipun terdapat tekanan energi, inflasi masih berada dalam kendali berkat kebijakan moneter yang hati-hati dan likuiditas domestik yang cukup kuat. Mereka memperkirakan bahwa hingga Juni, momentum pertumbuhan dapat dipertahankan asalkan tidak terjadi gangguan yang signifikan.
Jika konflik di Timur Tengah berlarut‑lurus, CBSL memperingatkan kemungkinan beban tambahan pada aktivitas ekonomi domestik, yang dapat memaksa otoritas untuk meninjau kembali kebijakan moneter di masa depan.












