PSPK – 25 Maret 2026 | Krisis energi dunia semakin mengkhawatirkan setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel di Iran menutup jalur pelayaran penting Selat Hormuz. Penutupan tersebut mengakibatkan kehilangan pasokan minyak mentah hingga 20 juta barel per hari, menurunkan sekitar satu per lima produksi global.
Akibatnya, harga energi, pupuk, dan produk petrokimia melonjak tajam. Beberapa maskapai penerbangan, termasuk United Airlines, mempertimbangkan kenaikan tarif tiket hingga 20 persen untuk menutupi biaya bahan bakar yang naik.
Berbagai negara merespon dengan langkah darurat. Di Asia, pemerintah menggalakkan penghematan energi melalui kebijakan kerja empat hari, pembatasan perjalanan, dan anjuran menggunakan tangga alih-alih lift. Filipina bahkan menyatakan keadaan darurat energi nasional.
- Penjualan cadangan strategis minyak mencapai rekor 400 juta barel secara global.
- Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia agar kilang yang kekurangan pasokan dapat membeli minyak tersebut.
- Jepang berkontribusi 80 juta barel dari cadangan strategisnya melalui koordinasi Badan Energi Internasional.
Meski Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab masih menyalurkan sebagian minyak lewat pipa yang melewati Selat Hormuz, total bantuan masih jauh dari kebutuhan. Para eksekutif energi menilai tindakan ini “bukan setetes air di dalam tong”.
Para pejabat Eropa memperingatkan bahwa kekurangan pasokan dapat melanda wilayah mereka pada bulan April bila konflik berlanjut. Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche bersama CEO Shell Wael Sawan menekankan pentingnya strategi jangka panjang, bukan sekadar reaksi sementara.
Produsen minyak Amerika Serikat diperkirakan tidak dapat meningkatkan produksi secara signifikan hingga 2027 karena batasan kapasitas. Begitu pula produsen LNG Amerika yang sudah beroperasi pada kapasitas maksimum, sehingga tidak mampu menutup celah pasokan Timur Tengah.
Secara keseluruhan, krisis energi ini menuntut koordinasi internasional yang lebih kuat, diversifikasi sumber energi, serta investasi jangka panjang dalam ketahanan pasokan.












