PSPK – 23 Maret 2026 | Pasar minyak menunjukkan fluktuasi tajam pada Senin pagi ketika pelaku pasar menimbang dua faktor utama: ancaman konfrontasi militer di Timur Tengah dan pelonggaran sementara sanksi Amerika Serikat terhadap Iran. Harga minyak mentah Brent naik 0,65 dolar menjadi $112,84 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat $98,75 per barel, masing-masing naik 0,84 dolar.
Perbedaan harga antara Brent dan WTI melebar hingga lebih dari $13 per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan ketidakpastian regional yang semakin intens.
| Komoditas | Harga (USD/barrel) | Perubahan |
|---|---|---|
| Brent | 112,84 | +0,65 |
| WTI | 98,75 | +0,84 |
Ketegangan memuncak setelah Presiden Amerika Serikat mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran bila negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam. Ancaman itu muncul satu hari setelah Presiden AS menyatakan niatnya mengakhiri perang yang kini memasuki minggu keempat.
Parlemen Iran menanggapi dengan memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi dapat menghancurkan fasilitas penting secara permanen, memperparah risiko eskalasi dan menambah tekanan pada harga minyak.
Para analis menilai bahwa, meski retorika politik dapat memicu volatilitas jangka pendek, arah pasar minyak tetap dipengaruhi oleh aliran produksi di Timur Tengah. Vandana Hari dari Vanda Insights menekankan bahwa sentimen pasar akan tetap bergejolak selama ketegangan berlanjut, namun faktor fundamental produksi tetap menjadi penentu utama.
Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA, menyebut krisis di kawasan itu lebih parah daripada dua guncangan minyak pada era 1970-an bila digabungkan. Kerusakan pada fasilitas energi Teluk diperkirakan mengurangi pasokan global sebanyak 7–10 juta barel per hari.
Irak telah mengumumkan force majeure pada semua ladang minyak yang dikelola oleh perusahaan asing. Produksi di Perusahaan Minyak Basra turun drastis menjadi 900.000 barel per hari dari 3,3 juta barel sebelumnya, menurut Menteri Perminyakan Irak.
Di sisi lain, penyuling minyak India menyatakan niat untuk melanjutkan pembelian minyak Iran, sementara penyuling di negara Asia lainnya masih menimbang langkah serupa.
Secara keseluruhan, pasar berada pada titik persimpangan antara harapan pelonggaran sanksi yang dapat meningkatkan pasokan, dan risiko perang yang dapat menurunkan produksi secara signifikan. Selama ketidakpastian geopolitik tetap tinggi, volatilitas harga minyak diperkirakan akan terus berlanjut.












