PSPK – 17 Maret 2026 | Tradisi mudik Lebaran tidak hanya sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan juga kesempatan strategis untuk menumbuhkan nilai persatuan dan toleransi di tengah keragaman masyarakat Indonesia.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyatakan bahwa mudik menjadi momen penting bagi perantau untuk kembali berinteraksi dengan komunitas asal dan memperkuat ikatan kebangsaan.
| Kategori | Jumlah (juta orang) |
|---|---|
| Total pemudik diproyeksikan | 155 |
| Arus puncak pada 18 Maret 2026 | 21,97 |
| Pengguna mobil pribadi | 76,24 |
| Pengguna mobil pribadi lewat tol | 50,63 |
| Sepeda motor masuk DIY (awal arus) | 0,129 |
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa sebagian besar pemudik akan menggunakan kendaraan pribadi, dengan lebih dari setengahnya menempuh jalan tol. Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sepeda motor tetap mendominasi, tercatat sekitar 129 ribu unit pada awal arus mudik.
Program “Mudik Gratis” yang digalakkan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah dan swasta, mencerminkan semangat toleransi serta rasa kebersamaan antar sesama warga. Lestari menekankan bahwa inisiatif ini memperkuat nilai-nilai kekeluargaan bangsa.
Rerie, anggota Komisi X DPR RI, mengingatkan bahwa perjalanan ini dapat dijadikan sarana praktis untuk menerapkan nilai kebangsaan. “Di jalan raya, kita bertemu pemudik dari beragam latar belakang. Di kampung halaman, kita kembali menyatu dengan akar budaya. Toleransi dan persatuan harus dipraktikkan, bukan sekadar wacana,” ujarnya.
Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat, semangat kebersamaan dan toleransi dianggap sangat penting untuk memperkuat ikatan sosial. Rerie berharap generasi penerus dapat terus mengamalkan nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya landasan dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.












