PSPK – 17 Maret 2026 | Otoritas penerbangan sipil Vietnam mengeluarkan peringatan resmi kepada maskapai penerbangan domestik untuk mempersiapkan kemungkinan pengurangan jadwal penerbangan mulai bulan April. Langkah ini diambil setelah China dan Thailand menghentikan ekspor bahan bakar jet sebagai respons terhadap konflik yang berlangsung di Iran, menimbulkan risiko kekurangan pasokan bahan bakar di kawasan.
Vietnam mengimpor lebih dari dua pertiga kebutuhan bahan bakar jetnya, dengan sekitar 60 persen berasal dari China dan Thailand. Dokumen regulator yang diterima oleh Reuters menegaskan adanya ancaman kekurangan bahan bakar jet bagi maskapai Vietnam pada awal April dan bulan-bulan berikutnya.
Dalam dokumen tertanggal 9 Maret, otoritas penerbangan meminta semua maskapai meninjau kembali rencana operasional, khususnya pada rute domestik. Selain itu, operator bandara diperintahkan menyiapkan ruang parkir tambahan untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan frekuensi penerbangan.
Pemasok utama di Vietnam, yakni perusahaan milik negara Petrolimex dan perusahaan swasta Skypec, hanya dapat menjamin pasokan bahan bakar jet hingga akhir Maret. Kedua perusahaan memperingatkan bahwa kontrak untuk bulan April mungkin tidak dapat dipenuhi oleh pemasok luar negeri.
Skypec menekankan pentingnya pembatasan transportasi udara hanya pada rute domestik yang esensial jika situasi berlanjut, guna mengurangi tekanan pada stok bahan bakar yang terbatas.
Larangan ekspor bahan bakar oleh China dimulai pada 11 Maret setelah kilang-kilangnya diminta menahan persetujuan ekspor baru di awal bulan. Thailand juga memberlakukan larangan pada 6 Maret, kecuali untuk ekspor ke Myanmar dan Laos.
Vietnam, sebagai pembeli kerosin ketiga terbesar dari China, telah melakukan diplomasi intensif. Menteri Luar Negeri Le Hoai Trung meminta koordinasi erat dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, untuk memastikan keamanan energi. Sementara itu, Perdana Menteri Pham Minh Chinh meminta bantuan Thailand dalam mengatasi kekurangan pasokan selama pertemuan dengan duta besar Thailand di Hanoi.
Regulator mencatat bahwa dalam kondisi saat ini sangat sulit menemukan pemasok baru. Dua kilang minyak dalam negeri juga berada di bawah tekanan untuk meningkatkan produksi produk minyak lain, sehingga tidak dapat dengan cepat menambah produksi bahan bakar jet.
Kenaikan harga bahan bakar jet yang tajam membuat banyak rute menjadi tidak menguntungkan. Maskapai lokal Sun PhuQuoc Airways berencana menyesuaikan jadwal penerbangan selama satu hingga tiga bulan ke depan sebagai respons terhadap volatilitas harga. Importir juga melaporkan bahwa mereka telah mencapai batas jalur kredit dan mendesak bank untuk menyediakan pembiayaan yang lebih fleksibel hingga pasar kembali stabil.
Harga swap bahan bakar jet di Singapura telah melonjak sekitar S$157 per barel, lebih dari satu setengah kali lipat dibandingkan tingkat sebelum konflik, menambah beban biaya bagi maskapai penerbangan di wilayah ini.












