PSPK – 15 Maret 2026 | Menjelang Idulfitri, meja tamu di hampir setiap rumah Indonesia dipenuhi beragam kue kering yang tak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan makna kebersamaan. Dari 20 pilihan kue lebaran yang populer hingga tradisi berburu kue di Palembang, serta resep praktis untuk sajian khas seperti kue satu kacang hijau dan kue sapik, rangkaian ini mencerminkan kekayaan kuliner nusantara yang terus beradaptasi.
Beragam Kue Lebaran Populer
Berikut ini kumpulan kue yang paling sering dijumpai pada perayaan Idulfitri, mencakup rasa manis, gurih, serta tekstur yang beragam.
- Kue Nastar – kue kering berisi selai nanas, klasik namun selalu digemari.
- Putri Salju – kue berbalut gula halus, lembut dan meleleh di mulut.
- Sagu Keju – kombinasi sagu dan keju memberikan rasa asin gurih.
- Kue Bangkit – terbuat dari tepung tapioka, renyah dan mudah dibentuk.
- Kastengel – kue keju tipis berbentuk oval, gurih dan beraroma mentega.
- Lidah Kucing – kue tipis renyah dengan aroma mentega, dapat diperkaya taburan keju atau coklat.
- Brownies Coklat – lembut, fudgy, dan kaya rasa coklat, cocok untuk semua usia.
- Pie Susu – kulit pie renyah dengan isian krim susu manis.
- Cookies Bola-Bola Coklat – kue kering berbentuk bola, mudah dibuat tanpa mixer.
- Kue Thumbprint Strawberry – lubang tengah berisi selai strawberry, menambah warna.
- Kue Sus Kering – kue kering tradisional dengan rasa manis alami.
- Cake Marmer – lapisan coklat dan vanila yang cantik.
- Telur Gabus – kue berbentuk telur, tekstur lembut di dalam.
- Bolu Gulung – bolu tipis yang digulung dengan isian manis.
- Bolu Kojo – bolu tradisional beraroma pandan.
- Sarang Semut – kue berwarna kuning cerah, renyah di luar.
- Kue Dahlia – kue berbentuk bunga dengan rasa buttery.
- Kue Kacang – kue kacang yang padat dan gurih.
- Bolu Kukus Mekar – bolu kukus lembut beraroma melati.
- Kue Akar Kelapa Palembang – kue khas Palembang beraroma kelapa.
Tradisi Memburu Kue di Palembang
Di Palembang, tradisi membeli kue kering menjelang Lebaran menjadi kegiatan sosial yang semarak. Warga berbondong‑bondong ke toko‑toko kue dan pusat oleh‑oleh untuk memastikan stok kue favorit tidak habis. Nastar, putri salju, kastengel, bangkit susu, choco stick, serta lidah kucing menjadi pilihan utama. Seorang warga bernama Salsa mengungkapkan, “Kalau Lebaran belum lengkap tanpa kue kering di meja tamu. Saya biasanya beli nastar, putri salju, dan kastengel karena itu yang paling disukai keluarga.”
Fenomena ini tidak hanya menambah kebahagiaan konsumen, tetapi juga memberi dampak ekonomi positif bagi pedagang kue lokal. Penjualan meningkat signifikan menjelang hari raya, menjadikan kue kering simbol keramahan dan kebersamaan dalam budaya Idulfitri.
Resep Praktis: Kue Satu Kacang Hijau
Kue satu kacang hijau merupakan camilan tradisional yang mudah hancur di mulut, cocok dijadikan pelengkap meja Lebaran. Berikut langkah‑langkah sederhana untuk membuatnya.
- Haluskan kacang hijau hingga menjadi tepung halus; pastikan teksturnya tidak kasar.
- Campurkan tepung kacang hijau dengan gula pasir, lalu tambahkan air atau santan secukupnya hingga terbentuk adonan yang dapat dipulung.
- Uleni adonan dengan tangan hingga kalis, jangan terlalu basah agar kue tidak retak saat dipanggang.
- Ambil sedikit adonan, bentuk bulat kecil, lalu tekan perlahan dengan ibu jari sehingga terbentuk cekungan tipis.
- Letakkan di atas loyang yang telah dialasi kertas roti, panggang pada suhu 150 °C selama 15‑20 menit hingga kue mengering dan berwarna keemasan.
- Biarkan dingin, kemudian simpan dalam toples kedap udara untuk menjaga kerenyahannya hingga seminggu.
Tips penting: jangan gunakan suhu terlalu tinggi, karena bagian luar dapat mengering sementara bagian dalam belum matang sempurna.
Kue Sapik: Cita Rasa Minang yang Menggoda
Berasal dari Sumatera Barat, kue sapik memiliki tekstur tipis dan renyah yang mirip crepes, namun dengan rasa gurih santan dan manis gula. Proses pembuatannya melibatkan cetakan besi bermotif yang dipanaskan, kemudian adonan cair dituangkan, dipanggang, dan segera dilipat saat masih panas.
Bahan utama meliputi tepung beras, gula pasir, telur, santan kental, garam, dan optional bubuk kayu manis untuk aroma khas. Setelah adonan tercampur rata, cetakan dipanaskan, diolesi margarin, dan adonan dituangkan 1‑2 sendok makan. Begitu kue berwarna kuning kecoklatan, dibuka, dilipat menjadi segitiga atau gulung, lalu didinginkan sebelum disimpan.
Kue sapik dapat bertahan dalam toples kedap udara selama beberapa minggu, menjadikannya pilihan praktis untuk persediaan kue Lebaran.
Sejarah Nastar: Dari Kolonial ke Meja Lebaran
Nastar, kue berisi selai nanas, sebenarnya bukan ciptaan asli Indonesia. Nama “nastar” berasal dari bahasa Belanda “ananas” (nanas) dan “taart” (kue). Pada masa Hindia Belanda, kue tart Eropa diperkenalkan, namun buah‑buah tropis sulit didapat, sehingga nanas yang dibawa oleh Portugis menjadi pengganti yang populer.
Seiring waktu, resep tersebut diadaptasi oleh penduduk lokal, menambahkan mentega, tepung terigu, dan telur, menciptakan versi kue yang lebih ringan dan renyah. Tradisi menyajikan nastar pada perayaan besar, termasuk Natal Belanda, kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia sebagai hidangan istimewa pada Idulfitri. Pada abad ke‑20, nastar menjadi simbol kehangatan dan keramahan, sering dijadikan hadiah antar‑keluarga.
Keberagaman varian nastar kini mencakup isian stroberi, coklat, bahkan kurma, menyesuaikan selera modern tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya.
Dengan beragam pilihan kue, tradisi berburu kue di Palembang, serta resep praktis yang dapat dipraktekkan di rumah, kue lebaran tetap menjadi elemen penting dalam perayaan Idulfitri. Tidak hanya menyajikan kenikmatan rasa, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan budaya yang terjalin selama generasi.












