Project Seru Penuh Kejutan

IHSG Anjlok 3,27%: Geopolitik, Harga Minyak & Risiko Fiskal Guncang Pasar Indonesia

March 9, 2026 • 0 Views
IHSG Anjlok 3,27%: Geopolitik, Harga Minyak & Risiko Fiskal Guncang Pasar Indonesia
IHSG Anjlok 3,27%: Geopolitik, Harga Minyak & Risiko Fiskal Guncang Pasar Indonesia

PSPK – 09 Maret 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, menutup pada level 7.373 poin, turun 3,27% (sekitar 248,3 poin) dari penutupan sebelumnya di 7.710,54. Penurunan ini merupakan salah satu koreksi terburuk dalam beberapa minggu terakhir dan mencerminkan kombinasi tekanan global serta domestik yang semakin intens.

Data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total kapitalisasi pasar sebesar Rp13.190 triliun, dengan volume transaksi mencapai 46,7 miliar saham melalui 2.474.387 kali transaksi. Nilai jual‑beli saham mencapai Rp23,8 triliun, menandakan likuiditas yang masih tinggi meski sentimen negatif menguasai pasar.

Rincian Pergerakan IHSG

Selama sesi perdagangan, 68 saham mencatat penguatan, 708 saham melemah, dan 41 saham tetap stagnan. Sektor-sektor siklikal menjadi pendorong utama penurunan, dengan penurunan rata‑rata sekitar 5%. Secara sektoral, sektor transportasi tercatat penurunan 4,93%, sektor barang baku 4,42%, energi 4,40%, dan industri 4,36%.

  • Sektor Transportasi: Penurunan terbesar pada IDXTrans, turun 4,37% ke level 1.789,8.
  • Sektor Bahan Baku: IDXBasic melemah 5,51% ke 2.062,5.
  • Sektor Siklikal: IDXcyclic turun 5,20% ke 990,106.
  • Sektor Energi: IDXEnergy turun 3,56% ke 3.829,03.
  • Sektor Keuangan: IDXFinance mengalami penurunan paling ringan, hanya 2,28% ke 1.367,77.

Di antara saham unggulan LQ45, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) tercatat penurunan terdalam sebesar 13,5% ke Rp2.050, diikuti oleh PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) turun 7,66% ke Rp2.170, serta PT Indosat Tbk (ISAT) yang melemah 7,41% ke Rp2.000.

Faktor Penyebab Penurunan

Para analis menyebutkan tiga pendorong utama:

  1. Ketegangan geopolitik: Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta ketidakpastian perang antara AS‑Israel‑Iran memicu lonjakan harga energi dunia, khususnya Brent crude yang menembus US$93 per barel. Indonesia sebagai net importer energi menghadapi tekanan pada neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, dan beban subsidi energi.
  2. Revisi outlook utang Indonesia: Fitch Ratings mengubah outlook sovereign Indonesia dari “Stabil” menjadi “Negatif”, menandakan kekhawatiran pasar terhadap disiplin fiskal dan kebijakan anggaran pemerintah.
  3. Risiko fiskal domestik: Defisit APBN pada Februari 2026 tercatat Rp135,7 triliun (0,53% PDB), lebih tinggi dari tahun sebelumnya, sementara belanja negara meningkat 41,9% YoY, didorong program MBG, bansos, dan subsidi.

Sentimen global yang negatif juga memicu arus keluar dana asing (foreign net sell) dari pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor asing menurunkan eksposur mereka di tengah ketidakpastian kebijakan moneter dan fiskal.

Aktivitas Perdagangan dan Pilihan Saham

Saham energi dan perbankan mendominasi nilai transaksi terbesar. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat nilai transaksi tertinggi sebesar Rp1,03 triliun dengan volume 4,89 miliar saham pada harga Rp220 per lembar. Saham perbankan seperti PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) masing‑masing mencatat nilai transaksi lebih dari Rp500 miliar.

Berbagai rumah riset memberikan rekomendasi saham untuk pekan ini. Indo Premier Sekuritas menyoroti DAAZ (target Rp4.200), ELSA (target Rp900), dan SIMP (target Rp685). Phintraco Sekuritas menempatkan WIIM, DOOH, NCKL, MEDC, BREN, dan TPIA sebagai “top picks” setelah menilai tekanan pada sektor energi dan infrastruktur.

Proyeksi Pekan Depan

Para analis memperkirakan IHSG akan menguji level support di 7.400‑7.300, dengan resistance di sekitar 7.900. Kunci bagi pergerakan selanjutnya adalah:

  • Kebijakan Bank Indonesia terkait stabilitas rupiah.
  • Pergerakan harga minyak dunia.
  • Perkembangan geopolitik, terutama hubungan AS‑Iran.
  • Respons fiskal pemerintah terhadap defisit dan program belanja.

Jika sentimen global tetap negatif dan tekanan fiskal tidak mereda, risiko penurunan lebih dalam tetap tinggi. Namun, dukungan dari sektor keuangan yang relatif tahan banting serta potensi rebound pada saham energi dapat menjadi penyangga.

Secara keseluruhan, penurunan IHSG sebesar 3,27% pada 9 Maret 2026 mencerminkan sensitivitas pasar Indonesia terhadap dinamika global dan kebijakan domestik. Investor diharapkan tetap waspada, memperhatikan data makro serta perkembangan geopolitik yang dapat memperkuat atau mengurangi tekanan pada indeks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *