PSPK – 19 Juni 2026 | Beberkan Pentingnya Empat Pilar Kebangsaan, Al Hidayat Samsu: Kunci Jaga Keutuhan menjadi sorotan utama ketika anggota DPD RI dari Sulawesi Selatan, Al Hidayat Samsu, menggelar sosialisasi di Aula Yayasan Pendidikan Laniang, Makassar, pada Jumat, 12 Juni 2026. Dalam acara tersebut, Dayat menegaskan bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan empat pilar yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga persatuan dan keutuhan negara.
Sosialisasi Empat Pilar di Makassar
Acara dimulai dengan sambutan resmi, diikuti dengan paparan mendalam mengenai masing‑masing pilar kebangsaan. Al Hidayat Samsu menekankan bahwa pemahaman Empat Pilar Kebangsaan harus melampaui sekadar teori; ia harus dihayati dalam tindakan sehari‑hari. “Dari sana lahir rasa tanggung jawab untuk menjaga Indonesia tetap utuh dan bersatu,” ujarnya kepada para pemuda, mahasiswa, serta tokoh pendidikan yang hadir.
Tantangan Kebangsaan di Era Digital
Dayat mengidentifikasi tiga tantangan utama yang mengancam persatuan bangsa: penyebaran informasi tidak terverifikasi, meningkatnya polarisasi sosial, serta menurunnya pemahaman generasi muda terhadap nilai‑nilai kebangsaan. Ia menambahkan, “Di era digital, masyarakat harus semakin bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Jangan sampai perbedaan pandangan dimanfaatkan untuk memecah belah persaudaraan yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa.”
- Informasi hoaks yang cepat menyebar.
- Polarisasi di media sosial.
- Krisis identitas generasi muda.
Peran Strategis Generasi Muda
Al Hidayat Samsu menaruh perhatian besar pada peran generasi muda. Menurutnya, pemuda adalah penerus bangsa yang harus menjadi pelopor persatuan. “Generasi muda harus menjadi teladan dalam menjaga nilai‑nilai kebangsaan. Masa depan Indonesia berada di tangan mereka yang mampu merawat keberagaman sebagai kekuatan, bukan alasan untuk terpecah,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Empat Pilar Kebangsaan sebagai pedoman dalam bersikap, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat. Dengan mengamalkan nilai‑nilai tersebut, diharapkan dapat memperkuat semangat gotong‑royong serta menumbuhkan rasa kebersamaan yang kokoh.
Harapan dan Penutup
Diskusi interaktif berlanjut dengan sesi tanya jawab yang mendapatkan antusiasme tinggi. Peserta mengajukan pertanyaan tentang strategi konkret mengatasi hoaks, cara meningkatkan rasa kebangsaan di sekolah, serta langkah-langkah membangun dialog lintas suku dan agama.
Al Hidayat Samsu menutup acara dengan menegaskan kembali, “Perbedaan suku, agama, budaya, dan latar belakang bukanlah penghalang untuk bersatu. Justru keberagaman itulah yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia untuk terus maju dan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.” Dengan harapan tersebut, ia berharap kesadaran masyarakat terhadap Empat Pilar Kebangsaan akan terus meningkat dan menjadi benteng utama dalam menjaga keutuhan NKRI.












