PSPK – 16 Juni 2026 | Dalam kuliah praktisi yang digelar pada Selasa, 9 Juni 2026 di Institut Media Digital Emtek (IMDE), para mahasiswa D4 Produksi Media mendapat pencerahan tentang pentingnya tidak sekadar menekan tombol “posting”. Dengan judul yang menggoda, Jangan Asal Posting, Ini Rahasia Bikin Konten Viral Kreatif dan “Cuan”, dosen Rifa Yusya Adilah mengundang dua praktisi ternama, Oka Pangestu dan Hasanul Bana, co‑founder BukanCumaPosting, untuk mengupas strategi konten yang bukan hanya menarik perhatian tetapi juga mengoptimalkan pendapatan.
Strategi Ikigai di Era Digital
Pembukaan materi menekankan konsep Ikigai—keseimbangan antara passion pribadi dan kebutuhan publik—sebagai analogi utama. Oka menjelaskan bahwa konten yang berhasil berada pada titik pertemuan antara preferensi kreator dan keinginan audiens. Ketika Jangan Asal Posting, Ini Rahasia Bikin Konten Viral Kreatif dan “Cuan” diterapkan, hasilnya adalah lonjakan view yang konsisten dan peluang monetisasi yang nyata.
Metode FLSR: Dari Observasi ke Re‑kreasi
Metode tradisional “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi) dimodifikasi menjadi FLSR: Finding, Listing, Sorting, Recreating. Langkah pertama, Finding, mengharuskan kreator mencari referensi akun atau konten top‑tier dalam niche yang relevan. Kedua, Listing, mencatat detail visual, audio, naskah, dan elemen lain. Ketiga, Sorting, menyaring konten dengan performa tertinggi—biasanya jutaan view—dan menganalisis faktor keberhasilannya. Terakhir, Recreating menekankan personalisasi agar tetap otentik, menghindari plagiasi.
Empat Pilar Winning Content
Hasanul menyoroti tiga detik pertama sebagai fase krusial. Ia merumuskan empat pilar konten yang mampu mengubah penonton menjadi prospek:
- Start With Hook: visual, audio, dan teks harus memikat dalam 3 detik.
- Build Tension: gunakan konflik, kontras, atau cliffhanger untuk menahan perhatian.
- Reveal The Solution: setelah ketegangan memuncak, hadirkan solusi yang relevan.
- Call To Value (CTV): ajakan aksi yang menawarkan nilai konkret, bukan sekadar “klik”.
Dengan menggabungkan keempat pilar ini, konten tidak hanya “viral” tetapi juga menghasilkan cuan bagi pembuatnya.
Peran AI dan Tools Pendukung
Selama sesi, mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah alat AI—seperti generator skrip, editor otomatis, dan analitik performa—yang mempercepat proses produksi. Oka menekankan bahwa teknologi bukan pengganti kreativitas, melainkan akselerator untuk menghasilkan Konten Viral yang tetap personal.
Implikasi Karir dan Bisnis
Rifa Yusya Adilah menegaskan bahwa kehadiran praktisi industri di kampus memperkecil kesenjangan antara teori akademik dan dinamika pasar. Mahasiswa yang menguasai strategi media sosial, psikologi audiens, serta teknik produksi modern akan menjadi “arsitek digital” yang siap memimpin pertumbuhan bisnis di masa depan.
Apresiasi dan Penghargaan
Sebagai penutup, IMDE memberikan sertifikat penghargaan kepada Oka Pangestu dan Hasanul Bana, diserahkan oleh Ketua Program Studi, Teguh Setiawan, bersama Rifa Yusya Adilah. Kehadiran Kaprodi Konten Kreatif, Erwin Mulyadi, menambah legitimasi acara yang diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta.
Melalui kuliah praktisi ini, frase Jangan Asal Posting, Ini Rahasia Bikin Konten Viral Kreatif dan “Cuan” tidak lagi sekadar slogan, melainkan panduan konkret bagi generasi kreator digital yang ingin menyeimbangkan kreativitas dengan profitabilitas. Dengan menerapkan metodologi FLSR, empat pilar konten, serta dukungan AI, mereka siap mengubah lanskap media sosial menjadi arena pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.












