Project Seru Penuh Kejutan
Berita  

Panen Raya Jagung GNTI 2026: Winarti Dorong Modernisasi Pertanian dan Sarana Pascapanen di Lampung

June 1, 2026 • 0 Views
Panen Raya Jagung GNTI 2026: Winarti Dorong Modernisasi Pertanian dan Sarana Pascapanen di Lampung
Panen Raya Jagung GNTI 2026: Winarti Dorong Modernisasi Pertanian dan Sarana Pascapanen di Lampung

PSPK – 01 Juni 2026 | Ketua DPD PDI Perjuangan Lampung sekaligus Pembina Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) Provinsi Lampung, Winarti, menekankan pentingnya fasilitas pengering hasil panen (dryer) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani jagung pada acara Panen Raya Jagung GNTI 2026 yang digelar di Desa Sinar Jati, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Sabtu 30 Mei 2026. Acara yang dihadiri oleh tokoh nasional seperti Ketua Umum GNTI Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, anggota DPR RI Komisi IV I Ketut Suwendra, serta Bupati Pesawaran Nanda Indira, menjadi momentum strategis bagi upaya modernisasi sektor pertanian di Provinsi Lampung.

Latar Belakang dan Signifikansi Panen Raya Jagung

Panen Raya Jagung GNTI 2026 diselenggarakan sebagai respons terhadap tantangan produksi jagung nasional yang menghadapi fluktuasi iklim, penurunan kualitas hasil panen, dan persaingan impor. Lampung, dengan luas lahan pertanian mencapai lebih dari 300.000 hektar, menempati posisi strategis sebagai salah satu kontributor utama produksi jagung di Pulau Sumatra. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, provinsi ini menghasilkan sekitar 1,8 juta ton jagung, menyumbang hampir 12% dari total produksi nasional.

Namun, produktivitas yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan nilai jual petani karena sebagian besar hasil panen mengalami penurunan mutu akibat kadar air yang tinggi dan kurangnya fasilitas penyimpanan. Hal ini menurunkan harga jual di pasar domestik dan meningkatkan kerentanan petani terhadap fluktuasi harga komoditas.

Upaya Modernisasi dan Teknologi Pascapanen

Dalam sambutannya, Winarti menegaskan bahwa modernisasi pertanian tidak boleh berhenti pada tahap penanaman benih atau penggunaan pupuk saja. “Ke depan, petani tidak hanya membutuhkan benih dan alat produksi, tetapi juga dukungan pascapanen seperti dryer,” ujar Winarti. Ia menambahkan bahwa keberadaan dryer dapat menstabilkan kadar air jagung pada standar 13-14%, yang secara langsung meningkatkan kualitas produk dan memperluas peluang akses ke pasar ekspor.

Rokhmin Dahuri, Ketua Umum GNTI sekaligus anggota Komisi IV DPR RI, memperluas narasi dengan menyoroti integrasi teknologi canggih dalam seluruh rantai produksi. “Penggunaan drone untuk pemantauan lahan, combine harvester untuk pemanenan cepat, serta dryer untuk penanganan pascapanen adalah bagian dari transformasi pertanian yang kami dorong,” katanya.

Berikut adalah beberapa teknologi yang diperkenalkan dalam acara tersebut:

  • Drone pemetaan lahan dengan sensor NDVI untuk mengidentifikasi zona stres tanaman.
  • Combine harvester berkapasitas 30 ton per jam, mengurangi waktu panen hingga 60% dibandingkan metode tradisional.
  • Dryer berbasis tenaga surya dengan kapasitas 5 ton per hari, memungkinkan penurunan kadar air secara efisien tanpa ketergantungan listrik konvensional.
  • Sistem manajemen data pertanian berbasis cloud untuk pencatatan hasil panen, pemakaian pupuk, dan prediksi pasar.

Dampak terhadap Petani dan Ketahanan Pangan Nasional

Implementasi teknologi pascapanen diharapkan memberikan dampak berlapis. Pada jangka pendek, petani akan merasakan peningkatan pendapatan karena jagung yang diproses dengan dryer mampu dijual pada harga premium, diperkirakan selisih 10-15% dibandingkan jagung mentah. Pada jangka menengah, penurunan kerugian pasca-panen akan meningkatkan produktivitas keseluruhan sektor, berkontribusi pada target ketahanan pangan nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, yaitu mencukupi 95% kebutuhan beras dan 85% kebutuhan jagung dalam negeri.

Kelompok tani yang hadir dalam acara tersebut menandatangani komitmen bersama dengan GNTI untuk mengadopsi setidaknya satu teknologi pascapanen dalam tiga tahun ke depan. Kesepakatan ini mencakup pembentukan koperasi penyedia dryer bersama, pelatihan penggunaan drone, serta pendanaan mikro kredit untuk pembelian alat modern.

Komitmen dan Langkah Selanjutnya

Acara Panen Raya juga diwarnai demonstrasi langsung penggunaan dryer tenaga surya pada lahan seluas 2 hektar milik petani lokal. Demonstrasi tersebut menunjukkan penurunan kadar air jagung dari 21% menjadi 13% dalam waktu enam jam, menghasilkan jagung kering yang siap dijual ke pabrik pakan ternak dan industri makanan olahan.

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pertanian setempat menyatakan kesiapan untuk mendukung penyediaan infrastruktur dryer melalui skema subsidi dan kemitraan publik-swasta. “Kami akan mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp 150 miliar untuk tahun anggaran 2027 guna pembangunan dryer di lima kabupaten prioritas,” kata Sekretaris Dinas Pertanian Lampung.

Di tingkat nasional, Kementerian Pertanian menyiapkan regulasi baru yang mempermudah perizinan instalasi dryer berbasis energi terbarukan, serta memberikan insentif pajak bagi produsen alat pascapanen yang beroperasi di daerah rawan kemiskinan pertanian.

Dengan sinergi antara pemerintah, organisasi petani, dan sektor swasta, diharapkan modernisasi pertanian di Lampung dapat menjadi contoh bagi provinsi lain dalam rangka memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *