PSPK – 31 Mei 2026 | Obati Rindu Keluarga, Warga Binaan Lapas Banyuwangi Nikmati Momen Nyate Bareng menjadi sorotan utama pada perayaan Iduladha 1447 Hijriah, ketika ratusan narapidana menggelar acara bakar sate bersama di pekarangan blok hunian. Suasana hangat dan aroma daging bakar menyatu, menciptakan nuansa Lebaran yang jarang terasa di dalam tembok penjara.
Suasana dan Persiapan
Di Lapas Kelas IIA Banyuwangi, tim panitia mengubah tradisi kurban menjadi kegiatan Nyate Bareng yang praktis. Daging kurban dipotong kecil-kecil, ditusuk pada bambu, lalu langsung dibakar di atas bara api terbuka. Metode ini dipilih agar proses memasak lebih cepat dan meminimalisir kebutuhan peralatan, sekaligus memberi kesempatan kepada setiap warga binaan untuk berpartisipasi aktif.
Tujuan Kebersamaan
Kepala Lapas, Solichin, menjelaskan bahwa konsep Nyate Bareng dirancang khusus untuk mempererat rasa kebersamaan antarsesama warga binaan. “Kami ingin menghadirkan nuansa kekeluargaan yang erat. Dengan Nyate Bareng ini, harapannya mereka bisa saling membaur dan memupuk rasa kebersamaan tanpa ada sekat,” ujarnya dalam sambutan singkat sebelum acara dimulai.
Mengobati Kerinduan
Iduladha biasanya menjadi momen berkumpul bersama keluarga, namun bagi narapidana, perayaan ini sering kali diwarnai kesendirian. Kegiatan Nyate Bareng menjadi upaya konkret untuk mengobati rindu keluarga. “Kehilangan momen berkumpul bersama orang-orang terdekat saat hari raya tentu menjadi hal yang berat. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan mampu sedikit mengobati kerinduan mereka,” tambah Solichin.
Dampak Positif bagi Narapidana
Para peserta melaporkan perasaan lebih lega dan terhubung satu sama lain setelah menyantap sate bersama. Beberapa menyebutkan bahwa aroma daging bakar mengingatkan mereka pada kebersamaan di rumah, sementara proses menyiapkan sate bersama menciptakan rasa saling bergantung yang positif. Selain itu, kegiatan ini juga menurunkan tingkat ketegangan dan potensi konflik di antara warga binaan selama hari raya.
Refleksi Sosial dan Keagamaan
Kegiatan Nyate Bareng di Lapas Banyuwangi menjadi contoh nyata bagaimana institusi pemasyarakatan dapat mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan sosial ke dalam program rehabilitasi. Dengan tetap menghormati tradisi Iduladha, pihak Lapas berhasil menyajikan alternatif yang aman, terstruktur, dan bermakna bagi para narapidana. Upaya ini sekaligus menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan dan kebersamaan tidak terhalang oleh batas fisik penjara.
Secara keseluruhan, Obati Rindu Keluarga, Warga Binaan Lapas Banyuwangi Nikmati Momen Nyate Bareng membuktikan bahwa kreativitas dalam mengelola acara keagamaan dapat memberikan dampak positif yang luas, memperkuat ikatan sosial, serta membantu mengatasi rasa rindu yang mendalam pada saat hari raya. Dengan harapan kegiatan serupa dapat diadopsi oleh lembaga pemasyarakatan lain, Nyate Bareng menjadi langkah penting dalam proses reintegrasi sosial narapidana.












