PSPK – 29 Mei 2026 | Yerusalem — Suara takbir berkumandang di langit Yerusalem pada Rabu, 27 Mei 2026, ketika ribuan umat Muslim memadati kompleks Masjid Al-Aqsa untuk melaksanakan salat Iduladha. Namun, di balik khidmatnya ibadah tersebut, Salat Iduladha di Majid Al-Aqsa Berlangsung di tengah Bayang-Bayang Konflik LPP RRI yang terus membayangi kawasan tersebut. Hari raya yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan dan kebersamaan justru diwarnai oleh kesedihan mendalam akibat konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina yang belum menemui titik terang.
Iduladha sendiri merupakan salah satu perayaan terpenting dalam kalender Islam. Hari raya ini memperingati kesediaan Nabi Ibrahim alaihissalam untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail, sebagai bentuk ketaatan tertinggi kepada perintah Allah SWT. Dalam tradisi Islam, umat Muslim di seluruh dunia melaksanakan penyembelihan hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada masyarakat miskin serta mereka yang membutuhkan sebagai wujud kepedulian sosial dan solidaritas kemanusiaan.
Suasana Khidmat yang Diselimuti Ketidakpastian
Kompleks Masjid Al-Aqsa, yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan situs suci ketiga dalam agama Islam, pada pagi itu dipenuhi oleh jamaah dari berbagai kalangan. Lansia, dewasa, hingga anak-anak terlihat berbondong-bondong memasuki area masjid untuk melaksanakan salat berjamaah. Namun, kehadiran pasukan keamanan Israel yang berjaga di sekitar kompleks menjadi pengingat bahwa Salat Iduladha di Majid Al-Aqsa Berlangsung di tengah Bayang-Bayang Konflik LPP RRI yang tak kunjung reda.
Israel disebut masih melakukan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober 2025. Situasi perang yang berkepanjangan membuat suasana Iduladha di wilayah tersebut dipenuhi kesedihan dan ketidakpastian. Bagi banyak warga Palestina, momen yang seharusnya dirayakan dengan suka cita justru menjadi pengingat pahit atas kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan yang dirampas oleh konflik.
Lebanon Selatan: Desa-Desa yang Kehilangan Kehangatan Hari Raya
Tidak hanya di Yerusalem, perang juga membayangi perayaan Iduladha di desa-desa perbatasan Lebanon selatan. Wilayah yang sebelumnya ramai dengan kehidupan masyarakat kini dipenuhi oleh pengungsian dan kekhawatiran akibat serangan yang terus berlangsung. Di sejumlah wilayah seperti Shebaa, Kfarhamam, dan Marj al-Zouhou, sekolah-sekolah berubah fungsi menjadi tempat penampungan bagi para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.
Banyak warga yang enggan kembali ke rumah mereka meski hari raya telah tiba. Ketakutan akan serangan mendadak dan kondisi keamanan yang tidak stabil menjadi alasan utama mengapa mereka lebih memilih bertahan di pengungsian. Wali Kota Kfarhamam, Mouad Rahhal, menyampaikan bahwa Iduladha biasanya menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga dan kerabat. Namun, kini banyak warga yang takut untuk kembali ke kampung halaman mereka karena kondisi keamanan yang semakin memburuk.
Mempertahankan Tradisi di Tengah Keterbatasan
Meskipun situasi sangat sulit, sebagian warga tetap berusaha mempertahankan tradisi Iduladha. Mereka masih membuat kue khas hari raya dan berkumpul bersama anggota keluarga yang tersisa. Semangat untuk tetap merayakan meski dalam keterbatasan menunjukkan ketegaran luar biasa dari masyarakat yang terdampak konflik.
Di antara mereka, terdengar bisikan doa dan harapan agar perdamaian segera terwujud. Anak-anak yang seharusnya merasakan kegembiraan hari raya justru lebih akrab dengan suara sirene dan ledakan. Namun, senyum tipis di wajah mereka ketika menerima daging kurban menjadi bukti bahwa harapan tidak pernah padam sepenuhnya.
Makna Kurban yang Lebih Dalam
Perayaan Salat Iduladha di Majid Al-Aqsa Berlangsung di tengah Bayang-Bayang Konflik LPP RRI tahun ini mengingatkan kita akan makna kurban yang sesungguhnya. Pengorbanan Nabi Ibrahim bukan sekadar ritual, melainkan cerminan dari ketundukan total kepada kehendak Tuhan. Dalam konteks konflik yang berkepanjangan, makna pengorbanan terasa semakin mendalam bagi warga yang harus kehilangan segalanya.
Para khatib yang menyampaikan khutbah Iduladha di Masjid Al-Aqsa menyerukan umat untuk tidak kehilangan harapan. Mereka mengingatkan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan bahwa kesabaran serta keteguhan iman adalah senjata terbaik dalam menghadapi cobaan.
Dunia Internasional Menanti
Situasi di kawasan ini terus mendapat perhatian dunia internasional. Berbagai organisasi kemanusiaan telah menyerukan diakhirinya kekerasan dan pelanggaran gencatan senjata. Namun, hingga hari raya ini tiba, belum ada tanda-tanda konkret bahwa konflik akan segera berakhir. Salat Iduladha di Majid Al-Aqsa Berlangsung di tengah Bayang-Bayang Konflik LPP RRI menjadi simbol bahwa umat Islam di wilayah tersebut terus berjuang untuk mempertahankan hak-hak mereka, termasuk hak untuk beribadah dengan tenang dan damai.
Perayaan Iduladha di Masjid Al-Aqsa dan di seluruh wilayah konflik tahun ini menyimpan pesan mendalam bagi dunia: bahwa perdamaian bukanlah sekadar impian, melainkan kebutuhan mendesak yang harus diwujudkan. Ketika suara takbir bersahutan di atas puing-puing rumah yang hancur, ketika daging kurban dibagikan kepada mereka yang kelaparan di pengungsian, dan ketika anak-anak tetap tersenyum meski kehilangan masa kecilnya — di situlah terlihat ketegaran manusia yang tidak bisa dikalahkan oleh peperangan apapun.












